Menarik Dikunjungi

Silahkan Klik untuk selengkapnya

Cerita Sunset

Silahkan klik untuk selengkapnya

Menatap Jauh

Silahkan klik untuk selengkapnya

Kita dan Mereka

Silahkan klik untuk selengkapnya

Berbagi Foto

Silahkan Klik untuk selengkapnya

The Power of Nasi Kuning

Disebuah meja warkop yang sederhana, pertemuan teman lama berlangsung. Rinai hujan dengan hembusan angin malam, cukup menyejukkan suasana. Sama seperti biasanya, pertemuan dengan teman lama, lebih banyak bernostalgia dan saling menanyakan kabar. Entah kabar sendiri atau kabar teman lainnya. Pembahasan dalam sebuah pertemuan, Itu kadang bisa menjadi cerminan dengan siapa kita sedang berbicara. Jika kebanyakan membahas tentang masa lalu, artinya teman bicara kita adalah orang yang sudah cukup berumur atau tua, sementara jika membahas tentang masa depan, biasanya mereka ini anak muda yang masih produktif.
Karena saya masih muda, produktif dan menolak tua, maka saya tidak ingin terjebak dalam nostalgia yang berlarut larut. Pembicaraan dialihkan ke persoalan masa depan. Yang berlalu biarkan berlalu, menjadi kenangan dan pembelajaran, masa depan menanti kita.

Satu persatu membahas tentang rencana usaha, ada juga yang ingin meniti karir menjadi pegawai dan pejabat. Semua adalah cita-cita, tidak ada yang salah dari sebuah cita-cita, katanya bermimpilah setinggi langit, sehingga saat jatuh, jatuhnya di antara bintang-bintang. Tapi jangan lupa, semakin tinggi, di antara bintang-bintang itu, angin berhembus sangat kencang, bisa menghempaskan kita kesana kemari, jadi jangan membayangkan jatuh di antara bintang-bintang seperti melayang indah dan perlahan turun diiringi alunan musik yang lembut kemudian mendarat dengan indah. Kita tidak sedang berada dalam cerita film india yang pemeran utama selalu menang mendapatkan kekasih tercintanya. Sehingga lebih baik jika membuat sebuah mimpi yang lebih realistis dan lebih terukur.

Saat teman bertanya, rencana kamu apa?
Sederhana, saya ingin jualan nasi kuning dpinggar jalan. 
Serentak mereka ketawa dan melirik.
Why not, dengan seperti itu saya bisa bahagia. Itu adalah impian terbesar dalam hidup saya sekarang ini.

Saya punya mitra, dia orang yang bisa membuat jualan nasi kuning menjadi menyenangkan dan lebih dari sekedar cari nafkah. Konsep yang ditawarkan juga sederhana, sesederhana cinta yang rela sakit agar terus bertahan. Haha. 
Semua orang butuh makan, dan ketika makanan itu kita buat dengan niat yang tulus, diracik dengan penuh kasih sayang dan takaran bumbu yang pas, percayalah setelah makan pasti akan kenyang. Haha.

Apa menariknya usaha ini? 
Sebenarnya sama saja dengan yang lain, bedanya, ini menjadi momentum pribadi untuk mengaktualkan sebuah kisah perjuangan bersama, berbagi, dan memulai mengukir cerita baru. Kebahagiaan itu, jika bisa membuat orang lain bahagia, dan kebahagiaan orang lain salah satunya ketika ia kenyang dari laparnya, ketika ia lega dari hausnya, kemudian mereka berdiri mengucapkan terima kasih, sambil tersenyum lalu pergi. Ini mungkin melelahkan, tapi lelahnya jika dilakukan bersama dengan tulus kemudian pulang istrahat, akan bisa lebih dinikmati. Apalagi jika rutin diselingi dengan liburan, ke pantai menikmati suara ombak atau ke gunung menghirup udara sejuk, bertafakur dan bercengkrama dengan alam, kita adalah dua sisi yang terpisah tapi bisa menyatu dalam kasih. 
Saya ingin berjuang, menyatu dan mewujudkan mimpi itu, karena saya tidak mau merasakan pahitnya terasing dalam kesendirian hidup.

Hujan dan Harapan

Ternyata hujan malam ini tidak menyejukkan. Rinai dan gemuruhnya justru membawa duka. Ada kerinduan yg tak bisa diluapkan, ada rasa yang menggumpal namun tak bisa disandarkan. Hujan malam ini memberi sejuta tanya, mendendangkan lagu kesedihan.

Jika esok adalah pagi, maka munculkanlah segera dengan pelanginya. Kami bukan tak mau mengikuti alur, cuma sedikit bosan dengan ritme yang berulang. Jika ini adalah jalan, maka perlihatkanlah gerbang kebahagiaan, yang selalu kami sebut dalam setiap doa.

Ini terlalu indah untuk berputus asa, dan  terlalu berat untuk ditinggalkan. Kami dalam ikrar janji yang mungkin tak suci, meminta sedikit cahaya, berikan temaram dalam jalan gelap ini.
Biarkan mimpi-mimpi menjadi nyata, melanjutkan kisah dan mengukir cerita.

Kabulkanlah doa kami, para pendosa yang tak tau diri..

Menemukan Surga di Marumasa

Pagi ini berangkat ke Marumasa, pantai yang eksotik dengan pasir putihnya, air yang jernih dan gugusan tebing-tebing karang yang indah. Tempat ini masih sangat alami dan belum begitu terjamah oleh tangan-tangan yang seolah traveler seperti saya ini.

Marumasa memberi kesan pertama yang membekas di hati, sehingga saya selalu senang untuk mengulang kunjungan. Di tempat ini kami pernah berbagi cerita, ada tawa, ada canda, ada kisah yang mengharu biru, ada tangis yang pecah dalam pelukan, ada penyesalan, ada ketakutan, ada harapan, ada rasa dan asa, ada suara ombak yang mengiringi menjemput pagi... ooh iaa, ada ular juga yang mengacau duduk melingkar kami..

Jalan-jalan bagi saya bukan hobby, hanya sekedar suka dengan suasana alam yang alami, seperti pantai, gunung, udara yang sejuk, suara ombak, suara burung liar, embun dan cahaya bintang malam. Bercengkrama dengan alam mengajarkan bahwa kita ini makhluk kecil yang tak ada apa-apanya, hanya bagian terkecil dari makrokosmos, lalu apa yang mau disombongkan? Berada di alam bebas itu menenangkan pikiran, mengajarkan kita ikhlas dan tegar, seperti karang yang terus dihantam oleh hempasan ombak, daun yang gugur oleh angin, seperti hujan yang rela jatuh meski tak tau akan jadi apa ia nanti, atau seperti akar yang bekerja dalam sunyi diam tanpa suara tapi menjadi kontributor utama bagi kehidupan pohon. Atau seperti pohon yang terus memberi sumbangsi oksigen yang kita hirup sekarang ini. Seperti marumasa yang membuat saya tenang saat duduk di tepi pantainya.

Ini kunjungan ke tiga, dan saya hanya bertiga, sebelumnya ramai-ramai, tempat ini harusnya bersyukur, karena selama tiga bulan berturut-turut saya berkunjung ke sini, pantai lain belum ada yang saya kunjungi sesering ini, hahaha. Rencana awal sebenarnya akan berangkat jam 1 malam, hanya saja ibu dari anakku melarang karena alasan cuaca buruk dan tidak aman, apalagi jaraknya cukup jauh dari kota Bulukumba, sehingga perjalanan ditunda sampai subuh. “mblo.. catat, larangan itu bentuk perhatian dan kasih sayang” :D

Matahari sementara siap-siap untuk kembali mengerjakan tugas, belum nampak di ufuk timur sana, kami sampai di pantai dan langsung membuka bekal nasi kuning, ini seperti pepatah lama “nasi kuning sebungkus menghapus lapar semalam”. Untuk berfoto selfie di pantai kita butuh energi yang cukup, sehingga mendahulukan nasi kuning sangatlah wajar sebelum mulai beraksi dengan kamera hp masing-masing, sekedar mengambil gambar untuk kepentingan eksist di medsos, atau membuat video banyaknya air, bambangnya alo.... hahahaha. Makan nasi kuning sambil duduk jongkok di atas pasir, hembusan angin yang menerbangkan pasir-pasir halus membuat nasi kuning ini bertambah banyak dan berubah rasa, minyak dibutiran nasi ternyata mampu menjadi magnet yang baik untuk menempelkan pasir, sungguh luar biasa..

Setelah kekenyangan, rencana tidak berjalan sesuai rencana. Badai datang tiba-tiba dan saya pun jadi panik. Mencari-cari tempat yang bisa berlindung, seperti semak belukar atau sejenisnya. Mata memandang jauh, mencari disetiap sudut, adakah tempat yang bisa jongkok dan mengeluarkan hajat. Ah, ini sangat membuat saya panik, tempat bersembunyi ada diselah tebing, cuma tak ada air untuk menyiram, sementara serangan sudah mulai ke ujung. Akhirnya saya memutuskan mencari tiga biji batu kecil untuk digenggam, entah hubungannya apa, kata orang jika hendak buang air besar, genggam saja tiga batu kecil untuk menahan rasa ingin buang. Tapi saya belum yakin, sudah saya genggam erat namun badai dalam perut tetap terasa, serangannya semakin kuat, tidak ada tanda-tanda gencatan senjata dari dalam. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang dan berharap dijalan segera menemukan tampat untuk melampiaskan hajat, saya pun berjalan, tidak begitu cepat, takut terlalu melebarkan kaki saat melangkah, saat duduk pun hanya memanfaatkan ujung-ujung jok. Ah ini liburan atau latihan menahan panik. Beberapa rumah warga sudah mulai kelihatan, mata sudah jelalatan mencari kiri kanan, dan akhirnya dari jauh terlihat mesjid, dalam hati dan dengan penuh keyakinan, pasti ada wc disana. Ternyata mesjid itu sedang renovasi, keyakinan ada wc mulai pudar, tetapi tetap dicoba untuk berhenti, berjalan masuk gerbang, bertanya pada tukang yang bekerja disitu, dia menunjukkan wc. dan pas saya buka pintu betapa luar biasanya, ada air yang banyak, ahh...saya seperti menemukan surga yang melegakan.

Karena Kopi Kita Bersama dengan Kopi Kita Berbagi

Ternyata, Blog ini tdk pernah di update sejak februari 2015, dan nyaris tdk ada list tulisan di tahun 2016. Saya sungguh tidak produktif dan tidak punya bakat dalam hal tulis menulis.
Saya munculkan tulisan ini agar tahun 2016 tetap ada di list blog arcive, sekalian promosikan nama cafe kiranya terbaca oleh kakak google kalau ada yang searching. Wkwkwkwkwkw..

Sejak bulan Juli 2016, ada yang menyebutnya warkop kopialisme, ada pula yang sebut kopilisme coffee shop bulukumba, ada juga yang bilang Kopialisme cafe bulukumba, tapi apapun penamaan orang untuk tempat ini, kami sangat bersyukur karena bisa hadir di tengah-tengah masyarakat bulukumba. meskipun masih sangat terbatas dan punya banyak kekurangan akan tetapi kami berharap bisa berbuat secara maksimal untuk memuaskan kebutuhan pelanggan.

Kopi itu selalu menjadi kambing hitam, ia selalu dijadikan alasan, “ngopi deh” atau “ayo ngopi” padahal sampai di tempat tujuan, pesan minum bisa saja bukan kopi. Kopi sudah jadi trand, banyak quote bermunculan tentang kopi, bahkan jadi meme. “cukup kopi saja yang pahit, hidupmu jangan” atau “ketika otak perlu inspirasi” semua itu bagian yang menjadikan kopi agak populer, bahkan pernah saya baca buku yang judulnya, “tuhan dalam secangkir kopi”, padahal isinya tidak membahas kopi saja, ada juga membahas tentang an-nisa ayat 3, tapi saya suka itu buku, misi kami sama, pejuang an-nisa ayat 3.. hahaha.. dari hal-hal tersebut saya menganggap kalau sekarang kopi itu sudah menjadi sebuah “paham” atau bahasa kerennya “isme” sehingga muncullah nama “Kopialisme” (nah iklan kan) hahahahaha...


Ketika ada yang bertanya, apa hal yang saya andalkan di Kopialisme? Saya jawab, saya punya tim yang hebat, mereka kompak dan mereka mau jalan bersama membangun dan meraih cita-cita bersama. Memang kami berasal dari latar belakang yang berbeda, tetapi kopi lah yang menyatukan kami, dan cita-cita besar yang mempererat. Cita-cita untuk bisa berbagi bahagia dengan orang lain. 

Selfie Bersama Rifal

Ibu kota memang lebih kejam dari ibu tiri. Mungkin sudah diketahui oleh orang banyak, ibu kota selalu memaksa kita bekerja keras agar tetap bisa bertahan hidup, untuk sekedar berdiri menatap dengan mata yang merah karena debu, dan menghirup udara yang penuh polusi. Ibarat sebuah kompetisi, kalau tidak menang ya harus mati, atau seperti mesin yang bekerja secara mekanistik hingga aus dan berujung di timbangan barang bekas.

Rifal, dia datang lagi. Dengan ekspresi yang sudah diatur , berdiri memegang daun pintu dan mengeluarkan suara seraknya yang nyaris tak terdengar, meskipun tanpa bersuara sebenarnya, kita sudah bisa tau maksud dan tujuannya. Rifal, sudah akrab dengan tempat kami, itulah sehingga saya kenal namanya, ia sudah sering berkunjung, menemui kami dan mereka disepanjang lorong ini. Seperti seorang adik yang menemui kakaknya saat uang jajannya sudah habis. Tapi sayang sekali, kami sering menjadi kakak yang jahat, pura pura sibuk dan tidak memberi, dengan alasan itu akan merusak mental anak-anak yang akan terbiasa menengadahkan tangan, alasan yang cukup menarik, apalagi untuk menutupi sifat kikir. Rifal kami biasakan bekerja dulu baru dapat hasil, sehingga saat datang, ia langsung lirik tempat sampah di sudut ruangan, buang sampah dulu di penampungan ujung lorong, baru diberi, anggap saja itu gaji dia sudah bekerja. Meskipun sebenarnya itu pekerjaan yang sangat ringan bagi pemalas sekalipun. Tapi setidaknya ada usaha dan proses, bukan sekedar tengadah tangan.

Tapi malam ini beda, Rifal tidak punya tugas, karena tidak ada sampah di sudut ruangan, sehingga saya memanggilnya untuk duduk di kursi pas depan papan tulis, saat pantatnya sudah pada posisi bagus di kursi, saya menarik kursi merapat di samping saya, mendekatkan jarak kami agar bisa bercengkrama lebih intim, agar bau khas matahari bisa tercium jelas, dan meraba rambutnya yang dibalut debu jalanan. Ya dasar orang yang tidak mau rugi, tidak mau memberi begitu saja dan membiarkan Rifal pergi melanjutkan misi, misi mengumpulkan uang sebanyak banyak nya. Tapi niat untuk berfoto selfie dengan Rifal lah yang mendesak saya untuk memanggilnya duduk, bercengkrama seperti teman lama yang baru ketemu. Meskipun kenyataanya beda, saya tidak seperti teman lama yang lagi rindu, tetapi seperti tim introgasi yang ditugaskan mengumpulkan data sebanyak banyak nya dari narasumber. Pertanyaan demi pertanyaan meluncur, dan rifal menjawab dengan suara seraknya yang setengah berbisik, kadang memaksa saya harus mengulang dan memperjelas jawaban.

Rifal itu tinggal di jalan pelita, sekolahnya di jalan bantabantaeng, dia masih kelas satu, semester yang lalu dia juara dua dikelasnya. Dia tidak pernah terlambat ke sekolah, meskipun jarak yang sedikit jauh dengan perjalanan menggunakan kaki, dia biasa berangkat jam 7 pagi, tetapi dia tidak pernah terlambat. “Kenapa bisa? Na jauh itu” saya memperjelas. “Ka lari ka, ku gendong tas ku baru biasa ka baku kejar sama teman ku” jawabnya polos dan sedikit bangga. Sayang sekali rasa bangganya langsung saya jatuhkan, saat bertanya kenapa tidak bisa juara satu, kenapa harus kalah dengan satu orang teman kelas. “Ka besar ki dia, kakakku saja na kalah besar” jawabnya sambil menunduk, seperti menyesali postur badannya yang masih kecil. “Bukan persoalan besar kecilnya badan Rifal, tetapi siapa yang rajin belajar, na kau kalau selalu keluar malam-malam begini, kapan waktumu untuk belajar”? saya kembali menjatuhkan rasa bangganya. “kalau pulang ka ini belajar ma, kerja PR baru tidur” jawabnya lagi. Rifal punya semangat belajar, dia berbeda dengan beberapa anak di jalanan yang kadang meminta-minta menjadi profesi menarik dan menggiurkan, apalagi jika itu adalah desakan orang tua atau bos, menggiurkannya beda tipis dengan MLM. “Kalau pulang sekolah langsung pergi minta-minta?” saya kembali bertanya. “Tidak, makan ka dulu, baru pergi main-main, sore pi biasa baru pergi minta-minta, jam 9 pulang ma, kerja PR baru tidur” jawabnya tegas. Sepertinya Rifal memiliki manajemen waktu yang baik. “Terus kenapa kamu pergi minta-minta? Mamamu yang suruh?” saya bertanya seperti menuduh. “bukan, saya sendiriji, namarahi ka kalau na tau, apalagi bapakku, mungkin na pukulka, ada temanku pernah lapor ka sama mamaku, jadi na taumi mamaku ia” Jelasnya yang saya coba simpulkan dari suaranya yang kadang susah didengar. Rifal itu anak ke enam dari delapan bersaudara, ibunya bekerja mengumpulkan botol bekas, ayahnya “kerja rumah batu” kata Rifal yang tidak mau mengalah saat saya pertegas itu maksudnya tukang batu.

“Rifal, tidak baik selalu minta-minta, itu merusak mental” saya mencoba menjadi penasehat yang baik. “robek ki?” dia kira yang saya maksud mantel jas hujan. Yaa entahlah Rifal. “lebih baik kamu jual-jualan” saya kembali menasehati. “beli coki-coki sepuluh ribu, terus kamu jual disekolah, atau orang yang dijalan, berapa harganya coki-coki?” saya bertanya. “Limbi’ (baca: Limabilangngang/Lima ratus) jawab Rifal singkat. “nah, kamu jual seribu, kan sudah ada untungmu lima ratus, jadi tadi uang mu sepuluh ribu bisa jadi dua puluh ribu” saya menjelaskan itu karena teringat dan sering melihat banyak anak muda yang biasa melakukannya di lampu merah. “iyye” jawabnya sambil ayun-ayunkan kaki. “Fotoki dulu Rifal, pintar ji kah foto sendiri?” sambil mengambil hp dan memberikannya pada Rifal, meskipun dia tidak mahir selfie, tapi setidaknya ia bisa menekan tobol mengambil gambar. “pulang mi Rifal, malam mi, kerja PR mu supaya bisa rangking satu” saya menyuruh sambil merangkul bahunya. “Kapan kah penerimaan Rapor lagi”? tanyaku saat dia sudah mulai berdiri. “kalau sudah makan-makan” jawabnya dengan sangat polos. “begini, kalau kamu bisa rangking satu, saya kasih hadiah” saya memberi iming-iming yang sebenarnya tidak baik juga bagi mentalnya. “Tojengki” katanya.. “iya, cari ma nanti disini kalau sudah mi terima rapor, nah..”

“iyye, pale’ pulang ma dulu”

Rifal, meskipun kesehariannya di jalan, tapi ia berhasil mendapat juara dua. anak SD kelas 1 ini punya semangat, meskipun ia tak tau kapan terima rapor, yang pasti waktu itu akan tiba setelah acara makan-makan di sekolah.

Jalan Jalan Ke Lappatoa Pinrang

Saya tidak tau dan tidak pandai menyusun kata dengan baik untuk mendeskripsikan perjalanan ke Lappatoa Pinrang agar menarik dibaca. 
Sehingga dengan foto foto berikut saya berharap itu bisa mewakili cerita lewat gambar. dan jika ada yang pandai membuat cerita silahkan dideskripsikan.


intinya: Untuk menuju Lappatoa tidaklah mudah, harus melewati jalan kecil, mendaki dan menurun, penuh bebatuan dan terjal. kendaraan yang bisa lewat hanyalah kendaraan khusus seperti motor yang sudah dimodif sedemikian rupa.
Di sana hanya dihuni oleh beberapa kepala keluarga, mereka sangat baik dan ramah. hasil bumi cukup banyak seperti cengkeh dan kopi, pemandangan alam yang indah dan alami bisa kita temui disana.
"Lappatoa, the hidden paradise"

Lirik lagu ana' kukang

Kukanga tunipela, tunibuang ri tamparang
kunianyukang ri je'ne, narappung tau maraeng
caddi-caddi duduinja, nanapelakka anrongku
mantang mama kale-kale, tu'guru je'ne matangku
aule..sare-sarena i kukang sayang
sare tea takkucini'
empo tena mate'nena

aule..sare-sarena i kukang sayang
sare tea takkucini'
empo tena mate'nena

Kukanga tunipela, tunibuang ri tamparang
kunianyukang ri je'ne, narappung tau maraeng
aule..sare-sarena i kukang sayang
sare tea takkucini'
empo tena mate'nena
......


Lagu ini bercerita tentang seorang anak yang dibuang oleh ibunya.
ana' kukang adalah bahasa makassar, yang berarti anak sebatang kara (yatim piatu)

Ana' kukang (anak yatim piatu) yang dibuang dilautan.
dipungut orang lain..
tinggallah sendiri, meratapi nasib dalam linangan air mata.

saya ingin mencoba menerjamahkan lirik lagu ini kedalam bahasa Indonesia,
tapi lumayan susah karena akan menggeser makna dari lagu.

Menikah bukan hanya karena Cinta

Ini bukan cerita sinetron dimana pemeran utamanya selalu menang diakhir episode. Ini bukan cerita tentang pangeran berkuda yang menjemput sang putri, juga bukan cerita tentang cinta dan rangga yang ramai dengan pecahan gelas. Ini bukan kisah yang banyak rintangan tetapi akan berakhir indah dan menyatu. Ini realitas yang kadang susah untuk ditepis.

Kisah Risna ramai di media sosial, menjadi menarik bagi saya karena ternyata kami sekampung. Sebenarnya bukan hanya Risna perempuan yang tegar datang di pernikahan pacarnya, banyak perempuan lain yang pernah seperti itu. Secara langsung pun saya pernah menyaksikan, perempuan dengan tegar datang memberikan ucapan selamat kepada mantan pacarnya yang menikah sekaligus menyumbangkan sebuah lagu, meskipun air mata tetap saja tak tertahankan dan menetes, saya pikir itu wajar saat rasa sedih mengisi hati. Kisah Risna juga masih kalah dengan kisah teman saya yang 14 tahun pacaran tapi putus, atau kisah teman lainnya yang dua kali ditinggal kawin oleh pacarnya. Cuma kisah mereka ini tidak terpublish di media sosial.

Jika teman teman biasa mengatakan jodoh itu di tangan pak imam, karena dia yang menikahkan dalam sebuah ikrar janji suci, ternyata salah. Selain imam, jodoh itu juga ada di tangan keluarga, ayah, ibu, kakak, om, tante, kakek, nenek sepupu,dkk. Jika mereka tidak setuju maka jodoh itu akan batal.

Dalam konteks masyarakat Bugis-makassar, pernikahan biasanya menjadi hal yang sangat sakral dan mahal. Tidak cukup dengan modal cinta, tetapi harus memiliki kemampuan lebih, dari segi finasial dan emosional, karena pernikahan bukan hanya menyatukan dua hati, tetapi menyatukan dua keluarga. Saat seorang laki laki hendak melamar, pihak keluarga laki laki harus mengetahui terlebih dahulu latar belakang perempuan yang akan dilamar, begitu juga dengan pihak perempuan, jika ada yang melamar, pihak keluarga harus mengetahui terlebih dahulu latar belakang keluarga laki laki yang melamar tersebut. Jika latar belakang keluarga masing masing sesuai yang diharapkan maka pernikahan akan berlanjut, tetapi jika tidak, maka kisah cinta akan menjadi cerita manis yang hanya untuk dikenang. Pihak laki laki biasanya akan dibebankan beberapa tanggung jawab, seperti uang panai atau uang belanja yang merupakan bantuan finansial pihak laki laki dalam penyelenggaraan pesta pihak perempuan. Selain itu, pihak laki laki harus membawa beberapa hal yang telah menjadi kesepakatan kedua belah pihak, biasanya tergantung adat istiadat, sompa atau mahar misalnya yang kadang dalam bentuk luasan tanah, emas, atau uang tunai. Dan beberapa kelengkapan lain. Itu sebabnya sehingga ada pesan leluhur bagi laki laki hendaknya mengelilingi dapur terlebih dahulu sebanyak tujuh kali sebelum menikah, karena tanggung jawab dan proses pernikahan itu kebanyakan ditanggung oleh pihak laki laki sebagai bentuk keseriusan mempersunting gadis pilihan.

Prosesi pernikahan juga tidak begitu mudah dan terdapat beberapa ritual. Sebelum menikah biasanya dilakukan prosesi mappaccing yang merupakan proses memberi restu dari pihak keluarga dan penyucian bagi calon mempelai. Saat ijab Kabul, mempelai perempuan berada di dalam kamar menunggu dengan tenang, dan akan tersenyum bahagia jika sudah terdengar kata “sah. Setelah itu dilakukan proses mappasikarawa yang merupakan sentuhan pertama laki laki kepada istrinya, biasanya akan dituntun oleh orang yang dituakan dari pihak laki laki. Saat duduk pengantin menerima tamu undangan ini merupakan bentuk sosialisasi kepada semua orang bahwa kedua mempelai telah resmi menjadi suami istri, dan agar semua yang hadir mengetahui, ini suaminya ini, ini istrinya ini. Saat malam pertama biasanya kedua suami istri yang baru saja disahkan ini, harus menginap di rumah pihak perempuan, ini sebagai bentuk penjagaan terhadap pihak perempuan.

Menikah, bukan hanya seberapa lama kita pacaran, tetapi kecocokan kedua keluarga, seberapa mampu laki laki memenuhi permintaan dari pihak perempuan, dan memenuhi syarat syarat pernikahan.

Ciuman di Pinggir jalan


Ceritanya begini. Suatu siang, saya mengantar keluarga pergi berbelanja di jalan pengayoman makassar, sambil menunggu mereka selesai belanja, saya menepi dan parkir di pinggir jalan. Tidak lama kemudian, datang seorang perempuan dengan motor matic, berhenti disamping tempat saya parkir, kemudian dia mengeluarkan hp dan menelpon seseorang. Tidak lama lagi datang seorang laki-laki mengendarai motor matic juga. Akhirnya mereka bertemu, bercerita dan sesekali tertawa bersama, entah apa yang mereka bicarakan, saya tidak dengar pembicaraannya, padahal saya mau ikut tertawa.

Tidak lama mereka bercerita, ternyata semakin akrab, cerita sudah mulai diselingi sentuhan-sentuhan fisik, tentunya sentuhan mesra. Sentuhan demi sentuhan dari tangan berganti menjadi sentuhan bibir. Eh mereka berciuman.. yah saya foto, ini kan momen langkah, hanya di luar negeri yang umum seperti ini, atau di tempat yang banyak turisnya, dan di film-film atau tv tentunya.

Sepertinya mereka nikmati proses itu, yah atas nama cinta mungkin, berciuman di pinggir jalan, seolah jalan milik berdua, saya yang mereka tidak lihat disampinnya hanya ngontrak. Saya mau beranggapan positif saja, anggaplah mereka suami istri yang sah, bercumbu dan berciuman di pinggir jalan yang ramai dilalui orang. Penasaran adegan selanjutnya, ternyata mereka berhenti, bercerita sedikit dan sama sama mengangguk, eh mereka pergi beriringan dengan motor masing-masing.

Untungnya sekarang sudah modern, privacy itu sudah tidak dibatasi lagi, hal-hal tabu menjadi layak diperbincangkan dan dipertontonkan. Coba kalau masih jaman dulu, kalau di kampung saya (dulu katanya) itu sudah masuk wilayah malu. Jangankan berciuman di tempat umum, berdua saja yang bukan pasangan sah atau keluarga, bisa ditangkap dan dinikahkan paksa. Tapikan sekarang katanya sudah modern, perempuan hamil diluar nikah sudah seperti insiden biasa. Malu-malu jika masih menjalankan pesan-pesan orang dulu untuk menjaga malu, Jadul katanya.

Daripada jadul, mending gaul, masalah norma, aturan dan malu urusan belakang, yang penting label modern melekat, dan tidak dikatakan kampungan. Padahal yang identik dengan kampung itukan biasanya banyak hewan ternaknya, atau hewan-hewan liar yang jarang ditemui di kota. Artinya yang bertindak seperti ternaklah yang harus dikatakan kampungan, ternakkan tidak pusing, ayam misalnya, biar banyak orang dia tetap kejar betinanya dan melakukan proses reproduksi, tidak perlu mencari tempat privacy, atau sapi misalnya, susunya kelihatan ya tetap Pd. Itukan yang harusnya kampungan, tapi sedikit mirip dengan orang modern.

Nasionalisme Karena Capres

Seketika banyak orang beralih menjadi pengamat politik, berbicara tentang peta politik bangsa, membedah karakter dan perilaku para figur yang bermain dalam arena politik pemenangan calon presiden. Nasionalisme kembali dikobarkan, setelah kemarin pertarungan keluarga, teman dan ego daerah telah padam. Semua berbicara tentang kebaikan bangsa dan kesejahteraan rakyat yang telah dirancang dalam bentuk visi misi dengan susunan kata kata yang tentunya harus meyakinkan. 
Semangat ini, semangat untuk menjadi pemimpin bangsa, kadang susah dibedakan antara semangat atau ego kepentingan. kepentingan pribadi, kelompok, partai dan juga pihak asing, mungkin. Semangat Ini pula yang merambah dan mendominasi perilaku para pendukung. Semangat yang kadang tidak berlandaskan pada pengetahuan yang berimbang, dengan segala informasi sepihak yang telah dimasukkan dalam pahaman mereka, kadang tidak mau tau dan buta melihat kebaikan selain kebaikan dukungannya. Saling serang sesama pendukung, selisih paham dan bahkan pertikaian fisik kadang tak terelakkan, tidak terima jika dukungannya dikatakan jelek, marah dan mengamuk, seakan yang jadi calon ini adalah sepupu mereka. Mungkin ini yang dinamakan fanatik, meski tidak dikenal oleh calon, yang penting dia mendukung. Ikut menyebar segala bentuk kampanye dukungan, berita-berita baik tentang dukungannya, dan berita negatif tentang lawan dukungannya, baik itu berupa pembusukan karakter yang sumber beritanya tidak jelas dan kebenaran berita yang tidak valid. Ini juga sangat dipengaruhi oleh media yang menjadi pelopor berita dan kadang tidak netral dalam memberikan informasi.
Tapi selain itu semua, ini menjadi sebuah momen dimana jiwa nasionalisme muncul, nasionalisme yang sedikit lebih baik dari sekedar nasionalisme karena hobi nonton bola atau bulutangkis, mungkin baik karena masyarakat tidak canggung berbicara tentang masa depan bangsa, keinginan untuk merubah nasib bangsa ke arah yang lebih baik, dengan menyandarkan harapan kepada para pemain yang mereka anggap baik dan layak. 
Calon mana yang layak untuk memimpin, tentunya semua menganggap dirinya layak.
Calon mana yang benar-benar berpihak kepada masyarakat, mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan rakyat? tentunya semua mengaku seperti itu, pengakuan yang masih perlu pengkajian lebih jauh betul tidaknya. tapi semoga saja..

Pemilu dan tukar suara

Besok kita memilih, katanya sebagai wakil kita di parlemen yang nanti akan membawa aspirasi kita, menyuarakan kebutuhan kita, yaa.. semua untuk kita, tapi sekali lagi  "katanya"..

Pemilu adalah pesta demokrasi, cukup layak memang disebut sebuah pesta, karena kemeriahan mewarnai moment ini. Akan banyak kita jumpai hiburan, pertunjukan musik yang mendatangkan artis lokal hingga artis nasional. Pesta yang cukup besar dengan keterlibatan ratusan bahkan ribuan massa. Kali ini masyarakat memang lagi berpesta, bisa dapat lembaran rupih cukup dengan ikut pawai, ugal-ugalan di jalan dan memakai seragam yang dibagikan. Masyarakat lagi dimanjakan dengan sembako, diberi hadiah dan ditukar dengan suara..

Mungkin hari ini para kandidat semakin gencar memaksimalkan strategi pemenangan, mengerahkan semua tim, membagi, memberi dan memastikan semua sesuai perencanaan. Tentu semua targetkan  menang, ingin duduk sebagai anggota dewan. Namun jika kalah? Seperti pada momen sebelumnya, banyak juga yang gila bahkan ada yg tidak sanggup menerima kenyataan, drop dan mati.

Dalam proses pemilu yang saya perhatikan selama ini, pilihan selalu disandarkan pada sebuah sistem barter atau kedekatan, bukan pada kualitas calon. Seseorang akan memilih jika yang dipilih ini adalah keluarga atau teman dekat, atau yang dipilih telah memberi sesuatu kepada pemilih, nominal sekian untuk sekian suara. Saya tidak menganggap itu salah atau itu benar, tapi katanya, kapan lagi kita bisa dapat, toh kalau sudah terpilih untung baik kalau kita diingat.
Mungkin itu juga bagian dari kemuakan masyarakat yang bosan dengan janji manis, bosan dengan segala bentuk orasi membara yang sangat ideal, visi misi yang ditulis sempurna dan menjanjikan dalam bentuk teks.

Tapi cukup ironis dengan segala proses yang seperti ini, masyarakat seperti jualan yang suaranya bisa dihargai dengan materi. Saya tidak menganggap salah orang yang memilih karena dibayar, hitung-hitung daripada tidak dapat sama sekali. Bukan juga pesimis dengan para calon, tapi betulkah mereka membawa aspirasi kita? Jika untuk terpilih mereka harus membayar, saya menganggap itu ambisi pribadi.

Cukup membingungkan, kalau kita memilih belum tentu yang dipilih akan berpihak sepenuhnya kepada masyarakat, terus jika kita golput atau tidak memilih maka kita akan dianggap warga negara yang tidak baik.

Akhh.. sudahlah..
Acc..

Pak Camat

ini cerita kemarin sore, untuk menghilangkan kejenuhan dalam perjalanan dari daerah.

Di dalam sebuah helikopter, ada pak camat, 1 orang asisten pak camat, 2 pramugari dan 1 orang pilot. Mereka berlima sedang panik, karena 10 menit lagi helikopter tersebut akan meledak. Dan parahnya lagi karena parasut yang tersedia cuma empat buah. Mereka berdiskusi untuk menentukan siapa yang paling dahulu menggunakan parasut dan menyelamatkan diri, terjun menggunakan parasut dan mengikhlaskan satu orang untuk meledak bersama heli karena parasut tidak cukup.

Pak camat: sedikit ngotot, "Mungkin saya yang harus lebih dulu melompat, karena masih banyak berkas administrasi yang harus saya tanda tangani".
baiklah.. Semua sepakat, dan pak camat terjun menyelamatkan diri..

Setelah itu dua orang pramugari dipersilahkan untuk terjun menggunakan parasut, karena mereka masih muda, dan biasanya perempuan memang selalu diutamakan.

Tinggal berdua, Pilot dan Asisten pak camat.
Asisten: "jadi siapa lagi yang akan terjun pak?"
Pilot: "menurut bapak kira-kira siapa?
Asisten: "karena pak pilot sudah tua, dan sudah banyak pengalaman, apalagi pak pilot ini sudah bisa jadi pahlawan bangsa jika gugur saat tugas, tentu akan membanggakan karir pak, jadi mungkin saya yang terjun jauh lebih baik"
Pilot: sambil menengadah, menelan air liur, menarik nafas dalam-dalam "saya juga masih ingin hidup"
Asisten: penuh harap, dengan mata berkaca-kaca "Tapi saya masih muda pak, kasian anak dan istri saya"
Pilot: "baiklah.. Silahkan ambil parasut di belakang dan selamat jalan"

asisten tergesah-gesah, segera mengambil parasut di belakang.
Asisten: "Pak, masih ada dua parasut disini"
Pilot kaget dan segera berdiri, bergeser ke belakang mengambil parasut "
Pilot: "Astaga, pak camat salah ambil, yang dia pakai tas ransel saya, bukan parasut..

[intinya: Jangan terburu-buru, tenang dan selalu dikomunikasikan dengan baik jika menghadapi masalah]

Lahir, Hidup dan Mati karena Cinta

“Apa” kadang menjadi kosakata yang sulit untuk dijelaskan jika disandingkan dengan kata Cinta.
Memang lebih menarik dan kebanyakan lebih senang mengaplikasikan Cinta dibanding membahasnya. Tetapi katanya, kekuatan cinta mampu membuat orang gagap menjadi pujangga yang mampu mengurai kata menjadi syair yang indah. Karena cinta, yang pahit kadang menjadi hambar, dan setiap malam seperti purnama yang bertabur bintang. Cinta hidup disetiap hati manusia, bermain dengan rasa dan asa. Pak tua pernah berkata kepada saya melalui sebuah novel, cinta itu bukan kata-kata, cinta itu tindakan, perilaku yang kadang buta dan tidak mengenal siapa dan kenapa. Cinta itu kelembutan, kasih sayang dan pengorbanan. Ada pula yang menganggap cinta itu perasaan suka, senang dan simpatik. Kak ocha bilang, cinta yang datang dari mata kemudian turun ke hati adalah cinta yang masuk lewat jendela, karena mata adalah jendela hati. Yang sakit hati kadang menganggap cinta itu air mata. Cinta itu penderitaan, cinta itu amarah, cinta itu senyuman, cinta itu manis, cinta itu indah, cinta itu kebahagiaan, cinta adalah …

Diantara sekian banyak penjelasan tentang cinta, belum ada yang menganggap cinta sebagai sebuah zat yang memiliki massa, cinta bukan sebuah materi yang memiliki wujud secara langsung, tetapi hanya efek dari cinta yang mampu ditangkap oleh indera. Sehingga untuk sementara ini saya menganggap cinta itu abstrak, mutlak dan tak terkendali. Cinta tidak memiliki wujud materi yang akan habis.

Jika cinta itu abstrak, mutlak dan tidak memiliki wujud materi, berarti cinta tidak akan pernah habis pada diri manusia, cinta selalu ada mengisi relung-relung hati yang dalam. Dan jika cinta itu tidak akan habis, berarti berapa pun banyaknya objek yang dicintai tidak akan mempengaruhi kadar atau kualitas cinta seseorang. Cinta tidak akan berkurang dan tidak akan habis dibagi berapa pun itu. Sehingga jangan pernah takut membagi cinta. :D :D

kita lahir, hidup dan mati karena cinta..

Acc..

Kopi dan PNS

Persis seminggu yang lalu, di tempat yang sama, jam yang hampir sama, dengan tujuan yang sama pula, saya duduk menunggu di sebuah gerai penjual kopi panas. Memesan segelas kemudian duduk di pinggir paling dekat dengan jalan. Jika minggu lalu yang duduk disudut gerai itu adalah empat orang laki-laki dengan seragam korpri, sekarang berbeda, ada lima ibu-ibu dan satu laki-laki yang masih muda, seragamnya sekarang bukan korpri, tapi pakaian dinas dengan tulisan pemerintah kota. Mungkin mereka PNS pemerintahan, mengingat depan gerai ini adalah kantor walikota, atau mungkin mereka honorer, yang jelas mereka bukan pegawai swasta. Jam 10 pagi, mereka asik berbincang, menikmati pagi dengan minuman masing-masing, bercanda satu sama lain dan tertawa riang, memang asik jadi PNS kalau seperti ini, kerja santai dan gaji tetap jalan. Tapi harus diperjelas, mereka belum tentu pegawai yang malas, mungkin karena tidak ada pekerjaan di kantor sehingga duduk santai seperti itu adalah pilihan terbaik. Sebenarnya saya iri sekaligus sedih, karena beberapa tahun lalu saya ikut mendaftar PNS tapi tidak lulus. Alasan saya sederhana, saya ingin bekerja dan  mendapatkan gaji setiap bulannya, dengan gelar pegawai negeri sipil hingga tua dan pensiun tetap akan menerima gaji. Keuntungan pegawai negeri dibandingkan pegawai swasta, pegawai negeri relatif aman dan mekanisme pemecatan lumayan susah, jika tidak disukai oleh atasan paling akan dimutasi. Berbeda dengan pegawai swasta yang kapan saja bisa dipecat, jika atasan sudah tidak senang atau kinerja menurun, maka banyak alasan bisa ia gunakan untuk memecat. Katanya, PNS itu digaji dari hasil pajak, dan yang taat bayar pajak akan digelari orang bijak. Harusnya selain gelar bijak masyarakat juga bisa mendapatkan fasilitas lebih bukan sebaliknya. Masyarakat sudah membayar melalui pajak, tapi jika ingin mengurus administrasi atau KTP misalnya, jangan harap bisa cepat selesai jika tidak ada selip-selip di bawah tangan. Tapi.. Sudahlah.. ini bukan hal tabu lagi dan kadang beberapa orang menganggap itu wajar-wajar saja. Pegawai dengan golongan dibawah kadang kurang puas dengan gajinya, sehingga lewat jalur itulah mereka bisa dapat tambahan pembeli rokok atau pembeli kopi. Saya juga sering menempuh jalur itu agar bisa dapat pelayanan ekspres. Selain itu mereka harus mengembalikan modal, katanya, dan mudah-mudah ini cuma issu, mereka harus membayar sekian rupiah agar bisa lolos jadi pns, meskipun tidak semua membayar seperti itu. Bagi yang punya uang, membayar puluhan juta bahkan ratusan juta lebih baik daripada jadi pengangguran. Seandainya beberpa tahun lalu saya punya uang, mungkin saya juga akan menempuh jalur itu, anggaplah seperti investasi atau menabung, setiap bulannya akan diterima bahkan hingga kita meninggal, menarik bukan, siapa yang tidak ingin jadi pns jika seperti itu. Tetapi ini bukan investasi yang seperti pada umumnya, jalurnya pun bukan jalur umum, seperti lewat di lorong rahasia, tidak semua bisa melewati, meskipun sebenarnya sudah menjadi rahasia umum.
Tapi itu hanya akan menjadi angan-angan  bagi yang tidak punya uang, yaah.. pns itu seperti mimpi manis bagi mereka yang bukan anak orang kaya, bukan anak pejabat, atau bagi mereka yang tidak punya koneksi. Skill, keahlian, kecerdasan biasanya tidak berlaku pada kondisi seperti itu. Berdoa cara yang baik, agar kondisi bisa berubah, agar penerimaan bisa objektif, dan katanya akhir-akhir ini, objektif itu sudah dijalankan. Semoga saja..
Ah, Saya ini seperti orang yang iri luar biasa, mengomel karena tidak bisa..
sudahlah.. kopi saya mulai dingin..

Licin, Terjal dan indah, perjalanan ke Umpungeng

Kesalahan saya waktu itu karena tidak sempat menanyakan siapa namanya. Badannya kurus, lebih kurus dari saya, kulitnya putih dan rambutnya lurus, katanya dia belum menikah. Dia pernah ke tanah papua merantau sekitar 7 tahun lamanya, disana dia bekerja sebagai tukang jahit dan menjual seragam sekolah, kain dia beli dari Australia, katanya lebih murah. Untuk harga baju seragam SD dia jual sekitar 200 ribu/lembar. Harga jual disana memang mahal, tapi berbanding lurus dengan biaya hidup. Yaa kita harus pandai-pandai menabung, jika mengikuti kebiasaan orang sana yang senang berpesta dan mabuk-mabukan, maka tidak akan ada hasil yang bisa kita bawah pulang dari perantauan, katanya setengah ngos-ngoson sambil tetap mengarahkan setir motor di atas jalan yang berbatu.

Saya harus mengakui kehebatan dia mengendarai motor, begitu pun teman-temannya yang lain. lincah dan kuat menahan beban di jalan yang luar biasa menantang. Saya yakin pedrosa atau valentine rossi pun akan mundur jika melihat track ini. Berbatu, sempit, licin, naik turun gunung, dan untung baik kami lalui saat malam sehingga jurang terjal tidak menjadi beban psikologis, yang kelihatan hanyalah siluet gunung dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Gelap berteman udara sejuk, suara burung malam tidak terdengar, digantikan suara knalpot motor yang bergemuruh, sesekali diseligi suara bak mesin motor yang berbenturan dengan batu, sekitar 15 kilometer saya harus memegang besi penyangga sadel agar tidak jatuh, pegangan itupun harus seerat mungkin, duduk agak kedepan dan kepala agak kebelakang, sepertinya itu gaya terjelek saya saat dibonceng, jika saya pindahkan tangan dan memeluk dia, sepertinya kurang bagus, selain akan tambah menyusahkan juga kurang sopan memeluk orang yang belum begitu akrab, meskipun sejenis. Saya sempat tersentak diam dan takut, ketika melihat kuburan di pinggir jalan, tepat di tanjakan terjal dan menikung kira-kira 45 derajat lebih tajam dari 90 derajat, dia pun membunyikan klakson, biasanya itu pertanda izin lewat kepada penghuni tempat sekitar. saya melirik kebelakang, yang kelihatan hanya gelap, melihat ke depan yang kelihatan hanya warna cokelat jalanan basah yang baru saja diguyur hujan dan mengkilap karena terpaan lampu motor. Langsung teringat film-film horor Indonesia, jika tiba-tiba muncul warna putih dengan suaranya yang mendayu-dayu atau ketawa cekikikan. Tapi rasa takut itu hilang saat dia bilang sering melintasi jalan ini sendirian, jam 2 malam dan tidak ada yang mengganggu. Untuk menghilangkan pikiran aneh saya serbu dia dengan pertanyaan.

Merepotkan betul ma ini sama teman-teman ku, jauh-jauh dijemput, saya memulai lagi perbincangan. Akh tidak apa-apa, ini acara bersama, yang penting semua bisa berjalan lancar, jawab dia dengan aksen agak melayu. Kenapa ki belum menikah? Saya mulai masuk hal pribadi. Belum mau, kalau sudah menikah tidak bebas lagi, ya cukup pacaran saja dulu, katanya sambil ketawa kecil. Tapi saya tidak pernah pacaran lama, Cuma beberapa minggu saja putus lagi dan cari lagi yang lain. Wah, berarti banyak pacarta itu di kampung, saya menimpali. Tidak juga, jawabnya singkat. Saya tidak mau kehilangan pertanyaan, sehingga hal aneh pun saya tanyakan hingga masalah penghasilan pribadi. Katanya, penduduk di kampungnya bekerja sebagai petani kopi, cengkeh, cokelat, menyadap getah pohon pinus dan membuat gula merah dari pohon aren. Memang banyak pohon aren di sepanjang jalan, berarti disini banyak tuak? Tanya saya lagi. Tidak banyak juga,  Cuma beberapa saja dan itu langsung dibuat gula. Disini orang-orang atau anak muda tidak suka minum tuak, itu pesan orang tua katanya, tidak boleh mabuk-mabuk dan main judi, tapi kalau pacaran atau merokok tidak apa-apa, itu masih normal, tapi pacaran itu tidak masuk dalam pesan orang tua. mabuk dan judi bisa menjadi sumber kejahatan lain, jika orang sudah mabuk maka bisa saja berkelahi dan sebagainya, atau jika orang main judi dan kalah bisa saja mencuri agar bisa judi lagi. Itu pesan yang cukup menarik.

Kami istrahat sejenak, berhenti di jembatan terakhir, betul-betul capek, tangan saya sakit karena terus memegang besi motor agar tidak jatuh. Tapi semua itu tertutupi oleh perasaan senang bisa menikmati pengalaman yang seru ini. Sekitar 5 kilometer lagi kita sampai, habiskan 2 batang rokok kemudian jalan lagi. Dari jauh terlihat bendera hias, bahagia rasanya akhirnya sampai di tempat tujuan. Sambutan yang luar biasa, dijamu dengan baik dan bersahabat. ini pengalaman yang luar biasa.

Terima kasih yang cukup mendalam buat silo’ Riko dan teman-teman panitia, buat 7 orang yang telah menjemput, dan 7 orang lagi yang telah mengantar, buat fung … yang dengan baik mengizinkan, menjamu dan memberi fasilitas untuk menginap di rumahnya, buat seluruh masyarakat umpungeng kab. Soppeng yang dengan ramah, bersahabat menerima kami untuk ikut menikmati pesta adat, terima kasih untuk semua senyum kebaikan kepada kami, dan mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dari kami. Acc..

Nasionalisme bukan Hobi

Ini bukan sebuah nasionalisme yang tiba-tiba membara karena setting kepentingan kelompok tertentu, membenci Negara lain karena hasutan dan menjadi orang yang seolah sangat cinta tanah air. Atau nasionalisme yang muncul karena senang menonton pertandingan bulu tangkis. Bukan nasionalisme yang dibungkus dengan hobi bola, sehingga merah putih dan garuda melekat di dada. Ini bukan nasionalisme momentum tujuh belasan di bulan agustus.

Tak banyak yang pernah mengunjungi mereka, apalagi pejabat tinggi yang tentu tidak akan tertarik mengendarai motor menyusuri jalan berbatu dan sempit, naik turun gunung dan bermain dengan jurang yang terjal. Beberapa teman, yang mengaku orang soppeng asli saat saya tanya, ternyata belum pernah kesana, pernah dengar namanya, tapi belum pernah kesana. Jangankan itu, sinyal frekuensi telepon pun masih malu-malu mengunjungi mereka, listrik mereka peroleh dari genset dan pembangkit alternatif.

Di umpungeng kabupaten soppeng, Sulawesi selatan, mereka menggelar sebuah acara adat, maccera’ tanah atau menumpahkan darah hewan, tanggal 12-14 maret 2014 kemarin. Kembali merefleksikan masa-masa mengharukan DI/TII, masa kritis saat Indonesia baru saja dideklarasikan sebagai Negara yang merdeka, masa dimana di tempat mereka terjadi pembunuhan dan menumpahkan darah pendahulu mereka. Hal yang menarik dari acara ini, meskipun ini adalah sebuah acara adat dan bukan ritual kebangsaan, tetapi bendera merah putih dipegang erat oleh mereka, dikibarkan di barisan terdepan iring-iringan rombongan. Ini adalah bentuk ke cintaan mereka terhadap bangsa, meskipun acara mereka tidak dihadiri oleh pemerintah atau presiden atau pejabat negara lainnya. Ini adalah refleksi masa-masa DI/TII, pertarungan gerilyawan melawan tentara Indonsia, dan mereka memperjelas keberpihakan mereka, bahwa merah putih harus tetap dikibarkan, kecintaan tanpa ada kepentingan dan bukan sekedar hobi. Acc…

Kesejukan Alam Barambang Sinjai





Hampir semua orang akan senang berada pada sebuah tempat yang indah, tempat yang mampu memberi kesejukan. Membiarkan udara lembut menyapa kulit, sejuk mengisi rongga pernafasan, membawa kita larut dalam suasana yang penuh kedamaian suguhan alami dari alam.

Salah satu tempat yang menawarkan kesejukan itu adalah air terjun Barambang, terletak di kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Untuk sampai di tempat itu kita harus menempuh jarak sekitar 10-20 km menuju Sinjai Borong dari jalan poros Tanete-kota Sinjai. Akses menuju tempat tersebut lumayan berkelok-kelok dan jalanan sempit, namun pemandangan sepanjang jalan akan membuat kita lupa untuk mengeluh, karena jalan yang dilewati penuh lubang yang siap mengayun kita di atas kendaraan. Jika ingin berhadapan langsung dengan air terjun dan merasakan bulir-bulir air menyapa kulit, kita harus menuruni tangga yang lumayan tinggi, orang sekitar biasa menyebutnya tangga seribu. Mungkin karena tingginya dan menguras tenaga untuk melewati tangga itu sehingga tangga seribu adalah kata yang pas untuk menggambarkan kondisi tersebut.

Mari sejenak kita bercumbu dengan alam, bermain dengan air yang dingin, membiarkan tubuh basah merasakan goresan aliran air yang dingin. Melepas penat, lelah dan segala gundah yang ada, biarkan semua mengalir bersama arus menuju muara yang tak bertepi.
Batu-batu kecil akan memberikan pijatan alami pada telapak kaki saat berjalan di aliran air, cukup untuk memberikan refleksi dan merangsang saraf pada kaki. Jika alergi pada air dingin, duduk di sekitar air terjun, di atas batu atau balai-balai yang ada untuk menatap alam sekitar juga akan menarik, memperhatikan gunung yang menjulang tinggi, perkebunan warga yang hijau atau menunggu kabut yang kadang datang jika cuaca sedang tidak cerah.

Air Terjun barambang, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, pesona alam yang berkesan, salah satu keindahan alam dari jutaan keindahan yang ada.
acc..

Intelek peminta-minta

Gambar di depan pintu 1 unhas 23-2-14
Konon katanya, mahasiswa adalah makhluk intelektual dengan segala kecerdasan yang mereka miliki, wawasan yang luas serta solidaritas yang tinggi. Mahasiswa menganggap dirinya sebagai agen pembawa perubahan dan kontrol sosial. Ini dibuktikan oleh berbagai macam catatan sejarah, kejadian-kejadian besar di negeri ini yang dipelopori oleh mahasiswa, keruntuhan rezim soeharto misalnya yang banyak menganggap mahasiswa sebagai pemeran utama atas peristiwa itu. Inilah yang menjadi spirit tersendiri bagi beberapa mahasiswa untuk tetap membangun dan melestarikan lembaga kemahasiswaan, dimana lembaga inilah yang memberi peran besar dalam menyatukan pola pikir, gerakan dan menjadi sentrum dari segala aktivitas. Membangun perlawanan, kritik, dan gerakan sosial yang menyentuh masyarakat secara langsung. Dan agar lembaga ini tetap hidup, maka kaderisasi tentu harus terus berjalan, kaderisasi sebagai ruh dari sebuah lembaga.

Jika kaderisasi terus berjalan tetapi kualitas kader menurun maka itu sebuah kaderisasi hampa  yang akan menghasilkan sebuah lembaga kemahasiswaan yang mandul, mati rasa dan tidak kreatif. Sekarang banyak fenomena yang seperti ini bisa kita saksikan di kampus-kampus. Ketika aktivitas diskusi yang dulunya menjadi sebuah trend mahasiswa, kini diganti oleh trend online dan individual, mengesampingkan kedekatan emosional. Jika mahasiswa dulu dengan segala sopan santunnya, dan segala bentuk penghormatan kepada yang lebih tua, menjadikan pengalaman mereka sebagai referensi kedepan, tetapi sekarang karena efek individual yang lebih tinggi, maka siapa kamu siapa saya adalah prinsip merdeka mereka yang tak mampu di tepis.

Selain itu, dulunya mahasiswa adalah sahabat orang kecil, sahabat para pengamen jalanan, sahabat para pengemis, tetapi sekarang mahasiswa telah menjadi pesaing mereka. Mahasiswa sekarang tidak lagi turun ke jalan dengan aspirasi yang membara, melainkan ke jalan membawa kardus, berdiri di sudut lampu merah, mendatangi satu demi satu orang lewat, menyodorkan, meminta bantuan, mengemis meminta uang. Penggalangan dana katanya, untuk bakti sosial, untuk mubes atau untuk kegiatan lainnya. Mental Peminta-Minta. Kreatifitas yang mati dan menginginkan segala sesuatu dengan instan, menjadi peminta-minta intelek adalah solusi praktis dan atas nama gerakan mahasiswa.


Agen perubahan sudah sangat tipis bedanya dengan event organiser, sekedar penyelenggaraan kegiatan atau program rutin yang tidak dipahami makna dan tujuannya, itupun jika ada kegiatan. Sekedar sebagai tameng saat laporanan pertanggungjawaban diakhir kepengurusan.

acc..

kamera dan perubahan sosial

Menurut saya, Kamera adalah alat yang bisa membekukan gambar, mengabadikan momen dengan pemanfaatan cahaya. Kamera satu kesatuan dengan Fotografi, siapa penemu fotografi yang pertama menjadi sebuah perdebatan, terdapat berbagai perbedaan pendapat, ada yang mengatakan yang pertama adalah Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham seorang muslim, ada juga yang mengatakan Joseph Nicephore Niepce, ada juga yang mengatakan Cardano Geronimo, ada juga yang mengatakan Roger Bacon, tapi siapa pun itu, mereka adalah orang hebat dan genius. Disini saya tidak akan bercerita tentang sejarah panjang dan rumit itu, cuma sekedar menceritakan pengalaman saat pertama kenal fotografi hingga perkembangan yang saya temui saat ini.

Mungkin sekitar tahun 1991 atau 92, memori yang masih bisa tersimpan hingga saat ini, pertama lihat dan belum dibiarkan menyentuh, kamera berwarna hitam dan akrab disebut tustel, 36 kutipan tanpa display yang bisa memunculkan hasil jepret atau pilihan hapus jika fotonya kurang bagus. Masa itu tustel masih sangat jarang, hanya kalangan tertentu yang bisa memiliki, sehingga pajangan foto keluarga tidak akan kita temui di ruang keluarga, yang ada biasanya cuma hasil lukisan. Jika anak muda zaman dulu berfoto, biasanya akan menjadi gaya andalan bersandar di pohon atau dinding, jaket di pundak dan rambut gonrong dilengkapi kacamata hitam yang lebar, kemudian disimpan rapi dalam album yang biasanya bertulis Fujifilm. Mungkin gaya yang digunakan setiap zaman tergantung gaya mereka yang menjadi idola.


Karena susahnya atau karena jarangnya tustel pada tempo doeloe sehingga foto-foto yang beredar juga jarang. Sampai memasuki era milenium, era dimana digital mulai marak, sudah mulai muncul kamera DSLR di kampung, dipegang oleh tukang foto yang ke sekolah saat foto ijazah. Terus berkembang ke kamera pocket atau akrab disebut camdi, hingga munculnya hp dengan fasilitas kamera vga, dan sekarang semakin canggih, kamera dengan fasilitas Hp. Perkembangan inilah yang memacu peredaran foto terus meningkat, tidak perlu lagi album foto, cuci cetak biasa sepi, kebanyakan yang cetak foto cuma untuk kebutuhan pas foto atau foto pernikahan dan foto keluarga. Batasan foto pun tidak lagi sakral, mulai dari gaya minimalis, dokumentasi perjalanan, foto makanan sebelum makan, foto dengan bibir cembung dan foto setengah telanjang yang anehnya foto itu biasanya diabadikan sendiri dan akrab disebut selfie. Perkembangan kamera ini sangat cepat, efeknya pun bermacam-macam, dan penggunanya mulai dari anak kecil hingga orang tua tanpa ada batasan jabatan atau status. Mulai dari memfoto muka sendiri hingga memfoto hanya bagian tertentu, misalnya memfoto luka lecetnya kemudian dibagikan ke media umum.


Kamera adalah teknologi yang luar biasa, akan menjadi baik jika digunakan untuk hal yang baik pula, tidak salah memfoto diri sendiri, yang salah jika memfoto diri sendiri dalam keadaan tidak layak publik kemudian kita sebarkan..

selamat foto-foto..

Generasi muda tidak mati kiri

Sebagian kecil contoh yang pernah terjadi,
Saat seorang pemateri hebat, berapi-api membawakan sebuah kajian, mata merah dan menggetarkan peserta, lantang saat menggertak, tiba-tiba merubah intonasi dan nada suara saat lawan jenisnya bertanya.
Seorang pria tampan yang Cuma bisa mengendarai motor matic, tiba-tiba lihai memakai motor kopling karena seorang perempuan minta diantar.
Seorang adik cantik yang malas mengikuti kegiatan, tiba-tiba duduk paling depan, karena kakak tampan ketua panitia.

Tidak objektif, berbuat atau bertindak karena pengaruh orang lain dan biasanya lawan jenis, ketika perempuan yang meminta maka lelaki pun tak kenal kata tidak, begitupun sebaliknya. Disebut mati kiri, karena posisi perempuan pada laki-laki itu disimbolkan sebagai rusuk sebelah kiri, sedangkan bagi perempuan disebut mati kanan. Mati kiri dapat diartikan sebagai sebuah perilaku berlebihan, tunduk dan pasrah pada lawan jenis dan bersifat tidak objektif.  inilah sehingga ada yang menganggap mati kiri atau mati kanan itu sebagai sebuah penyakit. Mati kiri berbeda dengan perilaku seseorang kepada orang yang memang sudah menjadi pasangannya, jika perlakuan lebih kepada pasangan, maka itu adalah sebuah bentuk tanggung jawab, sedangkan perilaku mati kiri dilandasi oleh sebuah pencitraan agar terlihat baik, hebat, keren atau bisa diandalkan.
Jika mati kiri ini menjadi tabiat generasi muda, maka yang ada hanyalah sebuah bentuk aktualisasi diri, melakukan aktifitas atau kegiatan bukan atas dasar nilai dan kesadaran tapi aktifitas self presentation.


Pada dasarnya manusia memiliki sifat lembut dan sifat tegas, perpaduan kedua sifat ini akan membentuk keseimbangan sehingga disebut sebuah kesempurnaan jika dapat memadukan keduanya dengan baik. Laki-laki dengan dominasi sifat tegas atau perkasa sangat membutuhkan kelembutan sebagai penyeimbang, sehingga alasan itu yang menjadi legitimasi bagi mereka untuk mencari perempuan yang didominasi sifat lembut. Meskipun dalam tinjauan lain dikatakan, bahwa tanpa pasangan pun kedua sifat itu bisa diseimbangkan, karena masing-masing ada di setiap diri manusia, pasangan itu sekedar pemenuhan aspek bilogis.

dicari: Generasi muda yang tidak mati kiri !!!
acc..