Menarik Dikunjungi

Silahkan Klik untuk selengkapnya

Cerita Sunset

Silahkan klik untuk selengkapnya

Menatap Jauh

Silahkan klik untuk selengkapnya

Kita dan Mereka

Silahkan klik untuk selengkapnya

Berbagi Foto

Silahkan Klik untuk selengkapnya

pagi ini


Terinspirasi dari tulisan beberapa tahun silam yang terbit disalah satu buletin kampus.

Pagi ini seperti biasa, saya bangun tidak begitu pagi, biarlah ayam lebih dulu mematok rejeki, toh paruhnya kecil, tidak mungkin dia akan habiskan rejeki untuk hari ini, ayam mematok rejeki dipagi hari itu biasa menjadi keluh orang tua yang mudah-mudahan tidak muak dengan anaknya yang malas bangun.
Sebenarnya bukan malas bangun pagi, tapi matalah yang terus memaksa untuk tertidur, dia ingin balas dendam, karena semalam dia dipaksa untuk membelalak hingga subuh. Tapi ternyata mata yang malas terbuka dikalahkan oleh aroma pisang goreng pagi ini, saya bangun, pisang goreng itu memang menggoda.
Teh, pasangan yang tidak begitu serasi sebenarnya dengan pisang goreng, tapi karena itu yang ada maka itulah yang terbaik untuk diminum dan mengguyur pisang di kerongkongan yang kadang malas untuk turun ke lambung. Sambil buka-buka hp, banyak pemberitahuan masuk, salah satunya pesan dari always, sekedar ucapan selamat pagi, saya tidak tau maksudnya apa, karena baru pagi ini dia kirim pesan, sekedar sapa atau menyimpan modus lain, saya balas kemudian tidak ada lagi respon. Mungkin dia mau menunjukkan kalau dia bagun cukup pagi hari ini, entahlah.
Pagi ini, tidak sejuk lagi, karena matahari sudah mulai sangar, ini masih pagi atau sudah siang, batasan jamnya saya tidak begitu paham. Teman baik, malas bangun yang saya miliki yaitu malas mandi pagi, tapi itu sudah hilang sejak setahun lalu, sekarang mandi dulu baru keluar, memakai hembodi (ejaan versi daerah) untuk menyembunyikan kulit kaki yang belang-belang. Sebenarnya memakai hembodi biasa saya lakukan sejak sekolah, merek-nya tergantung merek yang dipakai mama saya, minyak rambut yang saya gunakan dulu minyak kemiri, cukup populer di kampung kala itu, bukan hanya rambut, jidat pun ikut mengkilat, rambut akan seperti daun talas, membiarkan air menggelinding dipermukaan dan tidak meresap, tapi sebaliknya, segala jenis debu akan melekat dengan baik.
Beginilah kalau bukan orang kantoran, setiap pagi aktifitas tidak jelas, keluar rumah dan jalan begitu saja, dan pagi ini, diperjalanan ketemu dengan om polisi, saya ditahan, dia minta sim dan stnk, seperti beberapa teman lainnya, ompol ini juga berkulit hitam legam seperti kue yang over d dalam pemanggang kue, perutnya agak buncit, dan kadang susah senyum, sedikit gugup saya sodorkan sim dan stnk, dia bolak-balik baca dan dikembalikan, silahkan jalan katanya. Dengan ucapan terima kasih lalu saya pergi, masih gugup, mungkin karena dikepala sudah membentuk ketakutan. Menepi, singgah di sebuah warung kopi, ingin menghilangkan rasa gugup, seteguk kafein tambah seisap nikotin mungkin bisa melegakan. Keringat yang dari tadi keluar memang membuat perasaan kurang nyaman, kopi menghilangkan gugup, tapi masih ada perasaan yang kurang nyaman, ah betul mengganggu. Berfikir apa yang salah dari pagi ini, padahal semua berjalan seperti kemarin-kemarin, kecuali ditahan om pol tadi. Bakar lagi nikotinnya, berusaha rileks, buka media sosial, ambil hp, tulis cerita pagi ini. Ohh..Ternyata saya belum boker.. hehehehehe

Warkop, 4-2-14.. acc

konci bu aji

Konci, dengan aksen bugis dan suara yang halus, ibu-ibu sambil melebarkan bibir dan sumringah menatap lawannya dengan ekspresi kemenangan. Dia baru saja menamparkan lembaran domi ke lantai, konci atau kunci biasa juga disebut kandang dan menutup putaran domi lalu menghitung mata domi dengan jumlah terendahlah yang menang. Tentu ibu aji yang mengunci tadi sebagai pemenangnya kali ini, dia tersenyum terus dengan cipo’-cipo’ di kepala, cipo’ itu adalah sebuah simbol  bagi perempuan yang telah menunaikan haji dan akan disapa dengan panggilan pung aji, ibu aji atau melekatkan aji di depan namanya.

Saya duduk di ruangan depan, memandangi ibu-ibu di ruangan tengah dengan cahaya yang seadanya, saya mengira mereka sedang sibuk memotong bawang, atau membuat kue dan makanan untuk persiapan menjamu para tamu besoknya. Ternyata keliru, mereka sibuk bermain domino.

Suasana malam yang meriah, ruangan tengah sebuah rumah panggung dipenuhi oleh ibu-ibu yang duduk berkelompok 4 orang, lembaran domi berwarna kuning masing-masing di tangan, menyusun strategi dan mengecoh lawan mengharap kemenangan. Dari puluhan pemain hanya empat oranglah nantinya yang akan bertahan sebagai pemenang, mereka harus lincah memainkan kartu agar panci atau daster bisa menjadi milik mereka dan dituliskan namanya sebagai pemenang.

Jika di daerah lain, saat ada pesta biasanya hanya laki-laki lah yang mengikuti perlombaan main domino. Tapi di daerah ini berbeda, di perbatasan negara, mereka tidak mau kalah mengambil posisi dan menamparkan lembaran demi lembaran domi, mulai dari ibu-ibu hingga gadis-gadis yang tangannya masih halus, tidak kalah lincah memainkan kartu, permainan ini lebih menarik bagi mereka, dibandingkan keluar ke tempat terbuka dan mangkal atau sekedar lalu lalang dikeramaian untuk memancing atau menarik perhatian lawan jenis mereka. 

Katanya, setiap ada pesta atau acara keramaian lainnya, selalu ada pertandingan domino antar ibu-ibu seperti ini. Saya berfikir mungkin ibu-ibu di daerah ini sudah mengenal kesetaraan gender ala barat sehingga mereka juga ikut ambil posisi dan tidak mau kalah dengan bapak-bapak, ataukah ini sekedar ajang ramai-ramai dan bersuka cita di tengah aktivitas keseharian yang melelahkan. Entahlah. Yang jelas ini adalah sebuah acara pesta yang orang harusnya bersuka cita dan berbahagia, jika sekedar menghibur diri dan melepaskan penat, duduk bersama dan tertawa bermain domino tidak ada salahnya, terlepas dari segala aspek pengatur seperti agama dan pandangan sosial. ini cara mereka yang jauh dari keramaian dan kemajuan modernisasi untuk menghibur diri.

sebatik, 24 Jan 2014
acc..

catatan dari ujung pulau


Ini tidak melalui sebuah penelitian ilmiah yang lengkap dengan segala prasyarat sehingga dikatakan karya ilmiah. ini hanyalah sebuah catatan dari perjalanan mengunjungi tempat yang pertama kali saya datangi. Mungkin sebagian orang menganggap hal biasa, tapi menjadi tidak biasa oleh saya karena ini pertama kalinya.
Sei-nyamuk atau biasa disebut sungai nyamuk, kecamatan sebatik kalimantan utara, berbatasan langsung dengan malaysia. Ketika dulu saya berkunjung ke pulau lain, jawa misalnya, saya memang merasa berada di daerah lain, karena di lingkungan saya berada dipenuhi dengan percakapan bahasa lokal, atau ditandai oleh ornamen lokal sebagai simbol daerah tersebut. Tapi ketika sampai di sini (sebatik) setelah melalui perjalanan ribuan kilometer menggunakan kendaraan darat, udara dan laut, saya merasa tidak pergi kemana-mana, disambut dengan bahasa melayu sebagai bahasa pemersatu mereka, bukan bahasa indonesia yang sesuai dengan eyd, dan bahasa sehari-hari mereka ternyata bahasa bugis.
Saat malam, sedang ada pesta, duduk melingkar dengan beberapa warga, terlihat dari guratan wajah, mereka ini pekerja keras, ternyata betul, mereka perantau dari sulsel, senyum mereka disela gumpalan asap, tata bahasa dan tingkah, masih menggambarkan nuansa tanah asal mereka. Katanya, disini 80% penduduk dari bugis, sinjai, bone, enrekang, wajo, sidrap, pinrang, bulukumba, sebenarnya bukan hanya bugis karena ada juga makassar, tapi secara umum mereka menyebut bugis,  sisanya perantau dari jawa dan orang tidung sendiri. Terlihat di gambar yang diabadikan dari salah satu mesjid besar di kota sebatik, nama mesjid ditulis dengan huruf lontara..
Saya langsung teringat dengan daerah luwu-sulsel yang beberapa wilayah didiami oleh orang jawa dan bali, mereka hidup dan berkembang di sana, sama atau tidak dengan kasus ini, saya kurang paham. Jika di luwu ada beberapa kampung atau desa yang diberi nama jawa/bali, maka di sini pun demikian, tempat yang lagi ada pesta ini disebut kampung sinjai, desa lapri kec.sebatik. Orang bugis telah menguasi beberapa wilayah disebatik ini, penduduk lokal tergeser kepolosok gunung. Dan katanya orang terkaya di daerah ini adalah orang bone, jika ada bangunan-bangunan besar, tanah yang luas itu dimiliki oleh mereka yang berlabel bugis. Secara singkat mereka menjelaskan tentang penamaan dan pemilikan tanah di ujung borneo ini, awalnya mereka merantau ke malaysia sebagai TKI ilegal, karena ilegal sehingga pekerjaan mereka disana terbatas dan dibayangi ketakutan akan ditangkap, mereka memilih pergi dan singgah di daerah ini yang dekat dengan malaysia, cukup 15 menit menggunakan speedboot. Tanah ini masih kosong, sehingga mereka membuka lahan dan bercocok tanam, begitulah seterusnya hingga sekarang menjadi ramai.
Bagaimana dengan penduduk lokal? Katanya" penduduk lokal tidak pernah pusing dengan kehidupan, malah mereka sendiri yang menjual tanah mereka kepada para pendatang, kehidupan penduduk lokal sangat sederhana, rumah mereka seadanya, yang jelas bisa berteduh, jarang penduduk lokal yang berminat kerja keras mengumpulkan uang, kata mereka" kami  lahir disini, besar disini dan akan mati disini, apa yang akan kami kejar? Jika kehidupan kami hanya berputar disini, yang jelas masih bisa makan untuk melangsungkan hidup, berbeda dengan kalian para pendatang, kalian harus kerja keras mengumpulkan uang, karena kalian perantau yang punya cita-cita untuk kembali ke kampung masing-masing karena disana kehidupan kalian.
Lalu bagaimana dengan kehidupan para pendatang, khususnya orang-orang bugis, apakah akur-akur saja? "Kalau disini kehidupan orang-orang sangat baik, kecuali di daerah timur sana, wilayah tarakan yang juga didominasi oleh bugis, disana pernah terjadi konflik kurang lebih 3 hari antara orang bugis, terkhusus orang pinrang, letta' dengan orang tidung.."kata orang disini, sebenarnya orang tidung mulai kehilangan kesabaran, karena orang bugis disana (tarakan) selalu mengganggu orang tidung (mengganggu tanda kutip)..banyak korban yang berjatuhan, dan paling banyak itu bugis, katanya.
Apa pekerjaan orang-orang bugis disini? "Mereka bertani, berdagang atau jual-jualan, membuat tambak udang, tambak ikan bandeng dan menjadi perampok. Banyak orang bugis di sini yang jadi perampok, mengambil hasil tambak orang, dan bisa dikatakan bajak laut, karena mereka merampok orang-orang di atas kapal yang akan menyeberang pulau dengan menggunakan speedboot, yang dirampok pun sesama mereka orang bugis. Jika mereka ketahuan dan dikejar oleh polisi, cukup melewati perbatasan negara saja, mereka akan aman, apalagi di tengah laut ada perbatasan tiga negara, indonesia-malaysia-filipina.

Catatan dari ujung borneo, berdasarkan hasil jalan-jalan dan perbincangan dari beberapa orang disini.

Sebatik, 24 Jan 14, acc...

Akhir 2013

Seperti tahun sebelumnya, kemeriahan selalu mewarnai malam pergantian tahun, momen sama yang sudah saya saksikan sejak kecil dulu. Ini sudah seperti sebuah tradisi atau sebuah ritual, terkhusus bagi remaja atau muda mudi, meskipun orang tua ada juga yang berpartisipasi, ini seperti hari perayaan kebesaran lainnya, dan semoga saya salah atas pernyataan tersebut.
Tapi jika ini adalah sebuah tradisi, maka ini tradisi yang lintas batas, lintas usia, lintas golongan, suku, ras bahkan agama.
Terlepas dari pro dan kontra berbagai penanggap, tapi realitanya seperti itu. Perayaan ini identik dengan pesta atau hura-hura, mulai dari kota besar hingga ke desa, mulai dari menyewa musik mahal, elektone, atau sekedar mengeluarkan speaker pribadi ke pinggir jalan kemudian bernyanyi bersama, perayaan dalam kategori paling sederhana biasanya sekedar berkumpul bersama dalam canda tawa menikmati kopi, teh atau minuman kemasan seperti teh gelas dan tahu isi. Yang sedikit religius biasanya merayakannya dengan doa bersama, atau yang membingkainya dalam nuansa intelektual biasa merayakan dengan diskusi bersama, setelah itu makan-makan..

Sore ini tanda-tanda perayaan itu semakin jelas, meskipun dari kemarin sebenarnya sudah banyak yang curi start, lebih duluan meledakkan petasan dan kembang api. Tapi sore ini semua semakin gencar, semakin gesit untuk menuju puncak perayaan. Penjual petasan dan kembang api semakin sengit bersaing memikat pembeli. Tidak mau kalah, penjual jagung, penjual ikan dan penjual arang ambil andil untuk mereka yang akan merayakan dengan bakar-bakar jagung atau ikan.. penjual terompet yang harus kerja ekstra membungkus jualan mereka agar tidak basah oleh rintik hujan juga berperan aktif.
Di sudut kota sana, mereka yang berlebih sudah mulai masuk ke ruang-ruang yang sedikit mewah, yang dipenuhi lampu kedap-kedip berwarna warni, bersama pasangan masing-masing atau teman-teman mereka tentunya. Ada juga katanya yang merayakan di kamar hotel, tapi..akh.. entahlah dengan itu, saya tidak paham.

Rintik hujan yang begitu tipis, kecil-kecil terus menetes dari langit, sepertinya ia sudah lelah dari pagi tadi menyerang dengan derasnya, membasahi bumi hingga tanah tak mampu lagi menampung airnya, dan membiarkan menggenang di permukaan. Ini tentunya baik mereka, hujan tidak menghalangi mereka keluar malam ini, rintik kecil bukan hal yang berarti, basah sedikit bukanlah sebuah masalah untuk acara tahunan ini. Bahkan rintik itu menjadi hiasan alami, warna yang terlihat indah menetes diselah cahaya lampu jalan.
Kembang api sudah mulai ramai mewarnai langit, petasan yang bersahutan seperti bersaing satu sama lain, suara bising, suara musik dan suara cempreng yang ikut menyanyi mengisi  hingga detik-detik menghitung mundur pergantian tahun. 10-9-8-7-6-5-4-3-2..dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh, semua diam, berhenti menghitung..dan seketika suara ledakan pecah..mereka berteriak histeris, berlari berhamburan...ahhh...itu badai..meruntuhkan gedung, membelah jalan, mereka berlarian menyelamatkan diri..seperti semut yang disiram air keras, ada yang terinjak ada yang melompat.. hanya hitungan detik, air laut ikut meluap, diikuti longsor..semua disapu rata, gedung, rumah, kendaraan, semua digilas habis..banyak dari mereka terseret, ada yang tertimpa bangunan..atap seng beterbangan, menghantam siapa saja yang dilewati..suara petasan dan nyanyian berganti histeris dan tangis, darah banyak yang tertumpah.. rata..semua rata..mereka terkapar, ada yang kehilangan kepala, badan mereka terpotong menjadi dua, bahkan ada yang hancur remuk..tragis, sedih..
Tiba-tiba semua hening, dan terdengar suara perempuan "sayang, bangun maki, jadi mi kopi ta sama pisang goreng di meja"..ahh, itu suara istriku.. :D :D

acc...
(Sinjai: 31 Desember 2013)

Bangun tidur, Hore: bukan lagu semua anak

Bangun tidur ku terus mandi, Tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi ku tolong ibu, Membersihkan tempat tidur ku

Bukan maksud untuk menjelekkan atau menganggap karya orang lain tidak bagus, hanya sekedar melakukan perbandingan, dan sebelumnya saya minta maaf kepada pengarang lagu jika kurang berkenan, dan saya juga bukan pengarang lagu dan tidak tau mengarang lagu.. 
Sepertinya pak kasur yang katanya pengarang lagu tersebut di atas, dan pak AT Mahmud yang mengarang libur telah tiba dan dipopulerkan oleh tasya, mungkin membuat lagu di dalam kamar dan tidak melakukan survey terlebih dahulu terhadap semua kondisi anak yang ada di negeri ini. Atau mungkin di zaman mereka semua kondisi anak sama, entahlah.. 
Tidak semua anak bangun dari kasur empuknya saat pagi tiba, ada juga saat pagi dia masih terlelap diatas tembok keramaian karena lelah begadang mencari, menengadah dan mengulurkan tangan meminta recehan atau lembaran rupiah.. 
Tidak semua anak bangun kemudian menggosok gigi, karena tidak semua anak bisa dengan mudah membeli sikat gigi, dan mungkin mereka lupa atau tidak mau tau kalau anak yang rajin sikat gigi akan membuat giginya bersih, karena jangankan gigi, tempat tidur mereka belum tentu di tempat yang bersih..
Tidak semua anak akan membantu ibunya membersihkan tempat tidur, karena tempat tidur mereka biasanya dibersihkan oleh dinas kebersihan. Tapi biasanya mereka membantu ibunya mencari nafkah, mencari uang untuk kelangsungan hidup.. 
Tidak semua anak akan berkata horee..saat libur tiba, karena banyak diantara mereka yang tidak paham dan tidak pernah merasakan apa itu libur. Tidak semua anak bersekolah, kemudian diliburkan atau saat hari minggu tiba mereka bebas dari PR dan bisa bermain atau jalan-jalan sampai puas. Anak-anak yang lain mungkin bisa bebas bersepeda saat hari minggu seperti gambar disamping, dengan baju merah dan sepeda merah yang terlihat serasi, atau berjalan dengan ibu mereka menikmati pagi sambil jajan seperti anak yang berbaju ungu disamping.. Tapi tidak dengan anak yang berbaju hitam, kusut dan kakinya penuh debu karena mungkin tidak menggunakan alas kaki, dia masih lelah, semalam suntuk dia tidak terlelap seperti anak yang lain dengan telentang diatas kasur menunggu pagi kemudian bermain. dia masih nyaman disinari matahari pagi, matanya masih malas untuk terbuka dan melanjutkan aktifitas, mungkin dia salah satu anak yang tidak pernah merasakan libur telah tiba.
Kebahagian orang tua mungkin saat melihat anaknya terlihat cantik atau tampan dengan segala aksesorisnya, seperti anak digambar samping, dengan kacamata dan jaket kuningnya, manis dan lucu. atau anak yang dibelakang denga riang gembira, karena orang tuanya baru saja membayar sewa skuter untuk ia maini. Tapi berbeda dengan anak yang disebelah kanan, sarungnya masih melilit beberapa bagian tubuh, dia juga masih lelah mungkin, orang tuanya tidak memakaikan dia aksesoris agar terlihat manis dan lucu, atau menyewakan mainan dan menikmati hari di minggu pagi.

Di tengah keramaian, dibawah terik matahari, diatas tembok keras, dikelilingi sampah mereka masih terlelap.. kapan mereka bisa bangun tidur, lalu menggosok gigi, kemudian membantu ibu merapikan tempat tidurnya sendiri, dan dengan girang mereka menyanyi, horee libur telah tiba.. Atau kapan mereka akan digandeng oleh ibu mereka untuk jajan, bermain, dan menyewakan mereka mainan, kemudian memakaikan mereka aksesoris agar terlihat cantik, dan kapan mereka akan berhenti bekerja untuk mencari nafkah dan menikmati dunia seperti anak-anak pada umumnya? Entah..
By: Acc../sumber foto: accfoto14.blogspot.com

Dear bapak/ibu dokter

Saya baru saja membaca pesan broadcast yang bapak/ibu kirim untuk semua masyarakat Indonesia tentang aksi meliburkan diri sehari bagi semua dokter sebagai bentuk solidaritas atas musibah yang menimpa teman bapak/ibu dokter.

Kami tentunya ikut prihatin dan berharap masalah itu cepat terselesaikan. Menggelar aksi protes, turun ke jalan meyuarakan aspirasi seperti yang diberitakan kemarin hal yang wajar tentunya, kami tidak mempersoalkan itu. Tapi jika hari ini bapak/ibu dokter harus meliburkan diri dan menutup mata atas pasien yang harus mendapat pelayanan medis, pengobatan atau sentuhan tangan seorang dokter kami pikir harus dibicarakan terlebih dahulu.

Jika teman bapak/ibu dikenakan kasus kriminalisasi karena pasien yang dia tangani meninggal karena hal  yang tidak disengaja, bagaimana dengan sikap meliburkan diri bapak/ibu yang bisa mengakibatkan meninggalnya pasien karena tidak mendapatkan tindakan dokter, apakah itu tidak masuk kriminalisasi juga? Ini bukan kasus pertama atas meninggalnya pasien yang sementara ditangani dokter, sudah banyak kasus sebelumnya, tapi mungkin karena perasaan sedih dan geram keluarga pasien sehingga harus membawa dokter yang menangani ke meja pengadilan. Siapapun itu, jika keluarga atau orang yang disayangi meninggal pasti akan sedih, dan melakukan hal-hal untuk meluapkan kesedihan, seperti yang dialami teman bapak/ibu yang dilaporkan oleh keluarga pasien yang lagi sedih karena keluarganya meninggal. Pernahkah bapak/ibu mengamati, berbincang atau mendengarkan keluhan mereka yang sakit, yang membawa diri mereka, keluarga mereka ke rumah sakit dan berserah diri kepada bapak/ibu dokter sebagai seorang yang dianggap ahli untuk menyembuhkan? Pernahkah bapak/ibu mendengar keluhan seorang pasien yang sudah 3 hari terbaring di rumah sakit tapi Cuma diberi obat Antalgin dan cairan infus? Nenek saya dokter yang mengalami itu, dan 3 tahun lalu dia sudah meninggal karena penyakit yang berulang kali dia bawa ke rumah sakit untuk disembuhkan. Dokter tau tidak seberapa banyak orang harus meninggal karena tidak punya biaya? Karena untuk bertemu dokter itu harus menyiapkan lembaran rupiah yang banyak? Dokter tau tidak, setiap pasien kadang hanya di kunjungi dokter paling lama 30 menit dalam sehari, diluar sabtu dan minggu, selebihnya cuma ditangani oleh perawat bahkan biasanya  cuma mahasiswa perawat yang masih praktek? Dokter tau tidak, berapa banyak pasien yang tidak menebus semua resep obat yang dokter berikan karena uangnya tidak cukup? Dokter tau tidak betapa banyak pasien yang sebenarnya juga butuh diapresiasikan aspirasinya untuk mendapatkan pelayanan maksimal?

Bapak/ibu dokter yang kami sayangi dan selalu harapkan jasanya, tau tidak betapa banyak pasien yang mempercayakan sepenuhnya hidup mereka kepada bapak/ibu, yang tidak pernah protes diberi obat apapun itu, yang tidak pernah protes kenapa mereka disuruh minum obat 3x1 bukan 7x1 agar cepat sembuh, yang selalu mengharapkan bapak/ibu ada dan memberi mereka sedikit semangat dan harapan untuk tetap sehat.
Bapak/ibu dokter, jika harus menyuarakan aspirasi dan menuntut keadilan untuk teman bapak/ibu kami sangat mendukung, tapi jangan korbankan pasien bapak/ibu, mereka tidak punya hubungan dengan kasus yang menimpah teman bapak/ibu..

Sekian dan semoga bisa menjadi bahan refleksi..terima kasih.

acc

Smartphone menyebabkan kemandulan bagi mahasiswa

Mungkin kita masih ingat beberapa tahun silam pernah marak issu tentang radiasi yang dikeluarkan oleh Handphone bisa membuat orang menjadi mandul, karena alasan itu sehingga banyak orang berbondong-bondong membeli tempat Hp yang dijepitkan di pinggang, selain antisipasi mandul karena radiasi, juga menjadi style tersendiri kala itu. Pancaran gelombang elektromagnetik dari ponsel memiliki frekuensi antara 450 – 1800 MHz, termasuk dalam daerah gelombang mikro, secara kuantitas relatif masih kecil karena hanya berkisar sepersejuta elektron volt. Namun kalau jarak sumber radiasi dengan materi cukup dekat, maka dampak radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh ponsel tidak boleh diabaikan begitu saja. Alasannya adalah karena intensitas radiasi elektromagnetik yang diterima oleh materi akan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak, artinya makin dekat dengan sumber radiasi, maka makin besar radiasi yang diterima. Persoalan akan lebih menarik lagi, kalau waktu kontak atau waktu berbicara melalui ponsel diperhitungkan, maka akumulasi dampak radiasi akibat pemakaian ponsel semakin besar. Gelombang elektromagnetik ini dapat menyebabkan pemanasan pada jaringan tubuh. Jaringan tubuh dipanaskan oleh rotasi dari molekul polar yang disebabkan oleh medan elektromagnetik. Berbagai penelitian mengungkapkan beberapa penyakit dapat ditimbulkan oleh radiasi ini seperti katarak, mandul, gangguan fungsi otak, hingga tumor. Radiasi yang dikeluarkan oleh ponsel ini mirip dengan radiasi yang dikeluarkan oleh computer ataupun laptop.

Jika dulu penggunaan Hp hanya sebatas sms dan telepon bisa menyebabkan berbagai penyakit, bagaimana dengan sekarang yang kadang orang tidur dengan Hp-nya. Apalagi sejak maraknya Smartphone dan kemajuan teknologi yang berkembang luar biasa, memberi dampak yang sangat signifikan. Jika dulu hanya sebatas kajian tentang apa dan bagaimana itu globalisasi, maka sekarang kita telah berada pada era itu, dimana terjadi perapatan ruang dan waktu. Kita dapat mengakses bebas informasi, berkomunikasi dengan orang lain tanpa harus dibatasi ruang dan waktu. Atau seperti penjelasan di atas misalnya, kita dapat membaca dan mengetahui informasi  tentang efek radiasi yang dikeluarkan oleh media yang kita gunakan sekarang ini, menggunakan media (hp, laptop, computer) yang mengeluarkan efek radiasi untuk mengetahui efek radiasi itu sendiri.

Perkembangan teknologi ini direspon antusias tentunya, apalagi bagi kalangan mahasiswa. Sudah sangat jarang mahasiswa yang menggunakan Hp yang hanya difasilitasi Sms dan telepon, jika mereka tidak mampu memiliki smartphone dengan berbagai fasilitas, paling tidak mereka akan memiliki Hp dengan fasilitas senter. Berbagai alasan para mahasiswa memiliki smartphone, mulai dari alasan agar tidak ketinggalan informasi, memudahkan cari data kuliah, agar selalu eksist di media sosial, hingga sekedar mengikuti trend. Jika penggunaan smartphone di kalangan mahasiswa sangat intens dan tidak tepat guna, maka efek mandul tidak akan terelakkan. Efek radiasi yang menyebabkan kemandulan mungkin bisa ditangkal dengan penemuan teknologi baru nantinya, tapi bagaimana jika efek yang ditimbulkan adalah kemandulan secara sosial?

Sadar atau tidak, kecanggihan smartphone akan mengarahkan penggunanya untuk individualis. Mereka akan sibuk dengan komunikasi dunia maya, tapi bisa jadi akan melupakan dunia nyata dan sekitarnya. Mahasiswa sebagai kontrol sosial atau pembawa perubahan, katanya, akan sangat tragis jika terjerumus ke dalam dunia individualis seperti ini. Dulu banyak mahasiswa yang antusias bergabung di sebuah organisasi atau komunitas kampus, karena bisa menambah teman, sebagai tempat belajar dan sebagai sumber informasi, tapi sekarang tidak lagi, sebagian lebih merasa nyaman dengan duduk sendiri dan mengutak atik internet di tangan dan mendapatkan informasi yang diinginkan. Ditambah lagi dengan media sosial yang semakin banyak, mulai dari facebook yang berhasil menggusur friendster, tweeter yang sedang di atas angin, path, Line, wechat, kakao talk, BBM, google +, dan masih banyak lagi, membuat komunikasi maya meningkat dan komunikasi secara langsung menurun, dan di media sosial orang pun lebih mudah menemukan teman baru. Diskusi pelataran tentang perubahan, tentang mereka yang tertindas, tentang revolusi misalnya, disingkirkan oleh status cengeng atau status untuk sekedar eksist.. dan kebanyakan orang lebih senang curhat di beranda atau Timeline dibandingkan curhat langsung dengan tetangga bangkunya, atau lebih senang chat dengan orang yang jauh dibandingkan bercerita langsung dengan orang di sekitarnya. Padahal komunikasi lewat pesan atau chat tidak memiliki ekspresi sehingga bisa menyebabkan terjadinya perbedaan makna. Ini juga sering terlihat saat menghadiri acara bazar, kebanyakan kita akan menemui teman-teman sibuk di depan laptop dengan akun media sosial masing-masing. Dan yang paling menarik, biasanya mereka sibuk saling komentar di media sosial padahal sedang duduk sebangku dan online bersama. Saya pernah bayangkan jika seorang aktivis kampus tidak mau kalah eksist di media sosial, mungkin statusnya “huff…lagi demo, nih”.. “lagi kajian with @anu @ini”.. “besok kajian apalagi yahh”..dll..

Jika organisasi kampus tidak cerdas mencari pola baru, maka lama kelamaan akan punah seiring dengan menurunnya minat mahasiswa untuk berorganisasi karena merasa nyaman dengan media sosial yang bisa memberi layanan akses informasi secara bebas. Perkembangan teknologi bukan hal yang salah, tapi penggunaan teknologi yang harus tepat dan bermanfaat.
Sumber: -  Wikipedia    - diskusi

By: acc