Menarik Dikunjungi

Silahkan Klik untuk selengkapnya

Cerita Sunset

Silahkan klik untuk selengkapnya

Menatap Jauh

Silahkan klik untuk selengkapnya

Kita dan Mereka

Silahkan klik untuk selengkapnya

Berbagi Foto

Silahkan Klik untuk selengkapnya

kamera dan perubahan sosial

Menurut saya, Kamera adalah alat yang bisa membekukan gambar, mengabadikan momen dengan pemanfaatan cahaya. Kamera satu kesatuan dengan Fotografi, siapa penemu fotografi yang pertama menjadi sebuah perdebatan, terdapat berbagai perbedaan pendapat, ada yang mengatakan yang pertama adalah Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham seorang muslim, ada juga yang mengatakan Joseph Nicephore Niepce, ada juga yang mengatakan Cardano Geronimo, ada juga yang mengatakan Roger Bacon, tapi siapa pun itu, mereka adalah orang hebat dan genius. Disini saya tidak akan bercerita tentang sejarah panjang dan rumit itu, cuma sekedar menceritakan pengalaman saat pertama kenal fotografi hingga perkembangan yang saya temui saat ini.

Mungkin sekitar tahun 1991 atau 92, memori yang masih bisa tersimpan hingga saat ini, pertama lihat dan belum dibiarkan menyentuh, kamera berwarna hitam dan akrab disebut tustel, 36 kutipan tanpa display yang bisa memunculkan hasil jepret atau pilihan hapus jika fotonya kurang bagus. Masa itu tustel masih sangat jarang, hanya kalangan tertentu yang bisa memiliki, sehingga pajangan foto keluarga tidak akan kita temui di ruang keluarga, yang ada biasanya cuma hasil lukisan. Jika anak muda zaman dulu berfoto, biasanya akan menjadi gaya andalan bersandar di pohon atau dinding, jaket di pundak dan rambut gonrong dilengkapi kacamata hitam yang lebar, kemudian disimpan rapi dalam album yang biasanya bertulis Fujifilm. Mungkin gaya yang digunakan setiap zaman tergantung gaya mereka yang menjadi idola.


Karena susahnya atau karena jarangnya tustel pada tempo doeloe sehingga foto-foto yang beredar juga jarang. Sampai memasuki era milenium, era dimana digital mulai marak, sudah mulai muncul kamera DSLR di kampung, dipegang oleh tukang foto yang ke sekolah saat foto ijazah. Terus berkembang ke kamera pocket atau akrab disebut camdi, hingga munculnya hp dengan fasilitas kamera vga, dan sekarang semakin canggih, kamera dengan fasilitas Hp. Perkembangan inilah yang memacu peredaran foto terus meningkat, tidak perlu lagi album foto, cuci cetak biasa sepi, kebanyakan yang cetak foto cuma untuk kebutuhan pas foto atau foto pernikahan dan foto keluarga. Batasan foto pun tidak lagi sakral, mulai dari gaya minimalis, dokumentasi perjalanan, foto makanan sebelum makan, foto dengan bibir cembung dan foto setengah telanjang yang anehnya foto itu biasanya diabadikan sendiri dan akrab disebut selfie. Perkembangan kamera ini sangat cepat, efeknya pun bermacam-macam, dan penggunanya mulai dari anak kecil hingga orang tua tanpa ada batasan jabatan atau status. Mulai dari memfoto muka sendiri hingga memfoto hanya bagian tertentu, misalnya memfoto luka lecetnya kemudian dibagikan ke media umum.


Kamera adalah teknologi yang luar biasa, akan menjadi baik jika digunakan untuk hal yang baik pula, tidak salah memfoto diri sendiri, yang salah jika memfoto diri sendiri dalam keadaan tidak layak publik kemudian kita sebarkan..

selamat foto-foto..

Generasi muda tidak mati kiri

Sebagian kecil contoh yang pernah terjadi,
Saat seorang pemateri hebat, berapi-api membawakan sebuah kajian, mata merah dan menggetarkan peserta, lantang saat menggertak, tiba-tiba merubah intonasi dan nada suara saat lawan jenisnya bertanya.
Seorang pria tampan yang Cuma bisa mengendarai motor matic, tiba-tiba lihai memakai motor kopling karena seorang perempuan minta diantar.
Seorang adik cantik yang malas mengikuti kegiatan, tiba-tiba duduk paling depan, karena kakak tampan ketua panitia.

Tidak objektif, berbuat atau bertindak karena pengaruh orang lain dan biasanya lawan jenis, ketika perempuan yang meminta maka lelaki pun tak kenal kata tidak, begitupun sebaliknya. Disebut mati kiri, karena posisi perempuan pada laki-laki itu disimbolkan sebagai rusuk sebelah kiri, sedangkan bagi perempuan disebut mati kanan. Mati kiri dapat diartikan sebagai sebuah perilaku berlebihan, tunduk dan pasrah pada lawan jenis dan bersifat tidak objektif.  inilah sehingga ada yang menganggap mati kiri atau mati kanan itu sebagai sebuah penyakit. Mati kiri berbeda dengan perilaku seseorang kepada orang yang memang sudah menjadi pasangannya, jika perlakuan lebih kepada pasangan, maka itu adalah sebuah bentuk tanggung jawab, sedangkan perilaku mati kiri dilandasi oleh sebuah pencitraan agar terlihat baik, hebat, keren atau bisa diandalkan.
Jika mati kiri ini menjadi tabiat generasi muda, maka yang ada hanyalah sebuah bentuk aktualisasi diri, melakukan aktifitas atau kegiatan bukan atas dasar nilai dan kesadaran tapi aktifitas self presentation.


Pada dasarnya manusia memiliki sifat lembut dan sifat tegas, perpaduan kedua sifat ini akan membentuk keseimbangan sehingga disebut sebuah kesempurnaan jika dapat memadukan keduanya dengan baik. Laki-laki dengan dominasi sifat tegas atau perkasa sangat membutuhkan kelembutan sebagai penyeimbang, sehingga alasan itu yang menjadi legitimasi bagi mereka untuk mencari perempuan yang didominasi sifat lembut. Meskipun dalam tinjauan lain dikatakan, bahwa tanpa pasangan pun kedua sifat itu bisa diseimbangkan, karena masing-masing ada di setiap diri manusia, pasangan itu sekedar pemenuhan aspek bilogis.

dicari: Generasi muda yang tidak mati kiri !!!
acc..

selamat ulang tahun hmi


Pak lafran pane sapaan yang sedikit akrab mungkin, karena terlalu berlebihan bagi saya jika harus seolah memanggil beliau dengan panggilan ayahanda, bukan tidak mau, cuma kata itu terlalu menggelitik, sama menggelitiknya panggilan kanda kepada senior, atau panggilan dinda kepada junior, tapi itu cuma menurut saya secara pribadi.

Semangat beliau dan teman-temannya sungguh luar biasa, membentuk sebuah organisasi dengan tujuan mulia, membina insan akademis, sebagai insan pencipta, pengabdi, yang dibalut dengan label agama islam yang diyakini agama sempurna, demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat adil makmur yang tentunya dengan ridho tuhan semesta alam.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak 1947 hingga sekarang tentu sudah cukup tua, jika manusia maka mungkin dia sudah bungkuk dan keriput. Tapi terlalu jauh jika saya harus membahas perjalan kisah yang panjang itu, cukup saya utarakan kisah sejak pertama saya mengenal hmi.

Banyak anggapan negatif tengang hmi, dengan sejumlah anggota biasa hingga tokoh besar hmi yang sudah bermain dalam kanca nasional dan sukses memberi sumbangsi yang cukup signifikan dalam pengrusakan nama hmi. Kita tidak perlu sebut nama, karena mereka cukup banyak dan populer. Selain itu, sadar atau tidak banyak anggota hmi sendiri yang juga ikut andil merusak, mulai dari mereka yang sekedar ikut bastra dan keluar mengatas namakan anggota hmi, atau anggota aktif yang mengatas namakan hmi kemudian memanfaatkan nama besar hmi untuk kepentingan pribadi atau sekolompok orang. Pemanfaatan dalam dunia politik yang cukup marak dikalangan senior atau teman yang sering saya jumpai, trand keluaran aktifis hmi biasanya terlibat dalam partai politik, meski tidak semua seperti itu. Keterlibatan itu tentu tidak salah, semua orang berhak memilih jalan hidup masing-masing, termasuk terlibat dalam parpol. Yang salah jika memaksakan keinginan atau kepentingan pribadi dalam keterlibatan tersebut dan menyeret junior yang masih muda, yang masih harus belajar di kampus, yang belum matang pola pikirnya, dan dijadikan sebagai peluncur. Junior yang masih muda dan sedikit lugu pasti akan senang, bagaimana tidak, dengan usianya yang masih muda, baru dan keinginan eksist cukup tinggi akan memotifasi dia untuk terlibat, siapa yang tidak senang jika di iming-imingi akses ke jenjang penguasa, bertemu orang besar sekelas dewan atau pemerintah daerah bahkan mentri, dan mungkin juga itu tidak salah, yang salah jika itu sekedar iming-iming semata.
Belum lagi pertarungan sesama anggota sendiri, pertarungan dalam memperebutkan posisi atau jabatan kepengurusan. Siapa yang tidak senang namanya ditulis sebagai ketua cabang, atau ketua badan kordinasi hingga ketua pusat. Persahabat yang terjalin di forum bastra, dilingkaran kajian, di meja diskusi harus rusak karena perbedaan pilihan, karena tidak mendukung satu sama lain.

Hmi memang cukup seksi, organisasi tua yang mimiliki banyak anggota dan tersebar diseluruh pelosok negeri. Memiliki banyak alumni yang sudah sukses menduduki posisi penting dan strategis, jaringan cukup luas, Itu salah satu alasan nama hmi bisa dipakai untuk mencari atau membuka akses. Dan menarik bagi mereka yang ingin memanfaatkan peluang usaha, mulai dari usaha jual beli barang, jasa hingga usaha multi level marketing atau mlm. Mulai mlm syariah hingga mlm pembalut. Sekali lagi itu sebuah usaha, tidak salah bagi mereka yang ingin berusaha, yang salah mungkin, jika kita memaksakan usaha tersebut untuk diminati, atau memaksakan teman, junior untuk terlibat karena alasan solidaritas atau kesetiakawanan. Dan teman atau junior yang baik, akan terlibat, mungkin karena usaha tersebut memang menarik atau karena ke-tidak enakan kepada teman atau senior.

Tapi selain itu, selain ketimpangan yang ada, banyak juga yang atas nama hmi, membuat sebuah kegiatan yang membantu masyarakat kecil, dari kegiatan massal hingga kegiatan-kegiatan perorangan. Yang kadang dilaksanakan pada tataran komisariat atau cabang.
Hmi ini adalah wadah yang menampung berbagai jenis pola pikir dan tabiat anggota, apa warna dan perilaku yang ada di dalamnya sangat ditentukan oleh anggota yang menjalankan. Ibarat satu perahu, jika salah satu anggota membocor perahu maka anggota lain harus cekatan mengeluarkan air yang masuk atau segera menambal bocornya, jika tidak cekatan maka semua akan ikut tenggelam. Kadang orang lain atau masyarakat secara umum melihat sebuah permasalah secara general, satu yang berbuat salah maka semua akan kena imbasnya. Anggotalah yang harusnya pintar memposisikan diri, bertindak dan membuat suatu aktifitas yang tidak merusak nama organisasi yang juga dapat merusak nama anggota lainnya, karena kita dalam satu naungan.
sangat tidak baik jika kita sebagai penerus, merusak nilai tulus yang ingin dibangun oleh bapak lafran pane. Anggota harusnya selalu menjaga agar tetap berjalan di koridor yang ada yakni ndp dan tujuan hmi, selalu menjadikan hmi sebagai wadah kaderisasi, memanusiakan manusia, belajar dan terus berjuang.

Bagi saya berdiri di sebuah komunitas kecil dengan anggota beberapa orang, di kampus politeknik ujung pandang dan bernaung di bawah payung hmi, sudah sangat cukup. Saya juga bukan anggota yang baik, tapi ingin melihat semua baik, cukup peduli kepada organisasi ini khususnya pada komunitas kecil tempat saya belajar, dan membuka tabir-tabir pengetahuan.
Selamat ulang tahun hmi, semoga bisa lebih baik.

Mks, 5 feb 14.
Acc...

pagi ini


Terinspirasi dari tulisan beberapa tahun silam yang terbit disalah satu buletin kampus.

Pagi ini seperti biasa, saya bangun tidak begitu pagi, biarlah ayam lebih dulu mematok rejeki, toh paruhnya kecil, tidak mungkin dia akan habiskan rejeki untuk hari ini, ayam mematok rejeki dipagi hari itu biasa menjadi keluh orang tua yang mudah-mudahan tidak muak dengan anaknya yang malas bangun.
Sebenarnya bukan malas bangun pagi, tapi matalah yang terus memaksa untuk tertidur, dia ingin balas dendam, karena semalam dia dipaksa untuk membelalak hingga subuh. Tapi ternyata mata yang malas terbuka dikalahkan oleh aroma pisang goreng pagi ini, saya bangun, pisang goreng itu memang menggoda.
Teh, pasangan yang tidak begitu serasi sebenarnya dengan pisang goreng, tapi karena itu yang ada maka itulah yang terbaik untuk diminum dan mengguyur pisang di kerongkongan yang kadang malas untuk turun ke lambung. Sambil buka-buka hp, banyak pemberitahuan masuk, salah satunya pesan dari always, sekedar ucapan selamat pagi, saya tidak tau maksudnya apa, karena baru pagi ini dia kirim pesan, sekedar sapa atau menyimpan modus lain, saya balas kemudian tidak ada lagi respon. Mungkin dia mau menunjukkan kalau dia bagun cukup pagi hari ini, entahlah.
Pagi ini, tidak sejuk lagi, karena matahari sudah mulai sangar, ini masih pagi atau sudah siang, batasan jamnya saya tidak begitu paham. Teman baik, malas bangun yang saya miliki yaitu malas mandi pagi, tapi itu sudah hilang sejak setahun lalu, sekarang mandi dulu baru keluar, memakai hembodi (ejaan versi daerah) untuk menyembunyikan kulit kaki yang belang-belang. Sebenarnya memakai hembodi biasa saya lakukan sejak sekolah, merek-nya tergantung merek yang dipakai mama saya, minyak rambut yang saya gunakan dulu minyak kemiri, cukup populer di kampung kala itu, bukan hanya rambut, jidat pun ikut mengkilat, rambut akan seperti daun talas, membiarkan air menggelinding dipermukaan dan tidak meresap, tapi sebaliknya, segala jenis debu akan melekat dengan baik.
Beginilah kalau bukan orang kantoran, setiap pagi aktifitas tidak jelas, keluar rumah dan jalan begitu saja, dan pagi ini, diperjalanan ketemu dengan om polisi, saya ditahan, dia minta sim dan stnk, seperti beberapa teman lainnya, ompol ini juga berkulit hitam legam seperti kue yang over d dalam pemanggang kue, perutnya agak buncit, dan kadang susah senyum, sedikit gugup saya sodorkan sim dan stnk, dia bolak-balik baca dan dikembalikan, silahkan jalan katanya. Dengan ucapan terima kasih lalu saya pergi, masih gugup, mungkin karena dikepala sudah membentuk ketakutan. Menepi, singgah di sebuah warung kopi, ingin menghilangkan rasa gugup, seteguk kafein tambah seisap nikotin mungkin bisa melegakan. Keringat yang dari tadi keluar memang membuat perasaan kurang nyaman, kopi menghilangkan gugup, tapi masih ada perasaan yang kurang nyaman, ah betul mengganggu. Berfikir apa yang salah dari pagi ini, padahal semua berjalan seperti kemarin-kemarin, kecuali ditahan om pol tadi. Bakar lagi nikotinnya, berusaha rileks, buka media sosial, ambil hp, tulis cerita pagi ini. Ohh..Ternyata saya belum boker.. hehehehehe

Warkop, 4-2-14.. acc

konci bu aji

Konci, dengan aksen bugis dan suara yang halus, ibu-ibu sambil melebarkan bibir dan sumringah menatap lawannya dengan ekspresi kemenangan. Dia baru saja menamparkan lembaran domi ke lantai, konci atau kunci biasa juga disebut kandang dan menutup putaran domi lalu menghitung mata domi dengan jumlah terendahlah yang menang. Tentu ibu aji yang mengunci tadi sebagai pemenangnya kali ini, dia tersenyum terus dengan cipo’-cipo’ di kepala, cipo’ itu adalah sebuah simbol  bagi perempuan yang telah menunaikan haji dan akan disapa dengan panggilan pung aji, ibu aji atau melekatkan aji di depan namanya.

Saya duduk di ruangan depan, memandangi ibu-ibu di ruangan tengah dengan cahaya yang seadanya, saya mengira mereka sedang sibuk memotong bawang, atau membuat kue dan makanan untuk persiapan menjamu para tamu besoknya. Ternyata keliru, mereka sibuk bermain domino.

Suasana malam yang meriah, ruangan tengah sebuah rumah panggung dipenuhi oleh ibu-ibu yang duduk berkelompok 4 orang, lembaran domi berwarna kuning masing-masing di tangan, menyusun strategi dan mengecoh lawan mengharap kemenangan. Dari puluhan pemain hanya empat oranglah nantinya yang akan bertahan sebagai pemenang, mereka harus lincah memainkan kartu agar panci atau daster bisa menjadi milik mereka dan dituliskan namanya sebagai pemenang.

Jika di daerah lain, saat ada pesta biasanya hanya laki-laki lah yang mengikuti perlombaan main domino. Tapi di daerah ini berbeda, di perbatasan negara, mereka tidak mau kalah mengambil posisi dan menamparkan lembaran demi lembaran domi, mulai dari ibu-ibu hingga gadis-gadis yang tangannya masih halus, tidak kalah lincah memainkan kartu, permainan ini lebih menarik bagi mereka, dibandingkan keluar ke tempat terbuka dan mangkal atau sekedar lalu lalang dikeramaian untuk memancing atau menarik perhatian lawan jenis mereka. 

Katanya, setiap ada pesta atau acara keramaian lainnya, selalu ada pertandingan domino antar ibu-ibu seperti ini. Saya berfikir mungkin ibu-ibu di daerah ini sudah mengenal kesetaraan gender ala barat sehingga mereka juga ikut ambil posisi dan tidak mau kalah dengan bapak-bapak, ataukah ini sekedar ajang ramai-ramai dan bersuka cita di tengah aktivitas keseharian yang melelahkan. Entahlah. Yang jelas ini adalah sebuah acara pesta yang orang harusnya bersuka cita dan berbahagia, jika sekedar menghibur diri dan melepaskan penat, duduk bersama dan tertawa bermain domino tidak ada salahnya, terlepas dari segala aspek pengatur seperti agama dan pandangan sosial. ini cara mereka yang jauh dari keramaian dan kemajuan modernisasi untuk menghibur diri.

sebatik, 24 Jan 2014
acc..

catatan dari ujung pulau


Ini tidak melalui sebuah penelitian ilmiah yang lengkap dengan segala prasyarat sehingga dikatakan karya ilmiah. ini hanyalah sebuah catatan dari perjalanan mengunjungi tempat yang pertama kali saya datangi. Mungkin sebagian orang menganggap hal biasa, tapi menjadi tidak biasa oleh saya karena ini pertama kalinya.
Sei-nyamuk atau biasa disebut sungai nyamuk, kecamatan sebatik kalimantan utara, berbatasan langsung dengan malaysia. Ketika dulu saya berkunjung ke pulau lain, jawa misalnya, saya memang merasa berada di daerah lain, karena di lingkungan saya berada dipenuhi dengan percakapan bahasa lokal, atau ditandai oleh ornamen lokal sebagai simbol daerah tersebut. Tapi ketika sampai di sini (sebatik) setelah melalui perjalanan ribuan kilometer menggunakan kendaraan darat, udara dan laut, saya merasa tidak pergi kemana-mana, disambut dengan bahasa melayu sebagai bahasa pemersatu mereka, bukan bahasa indonesia yang sesuai dengan eyd, dan bahasa sehari-hari mereka ternyata bahasa bugis.
Saat malam, sedang ada pesta, duduk melingkar dengan beberapa warga, terlihat dari guratan wajah, mereka ini pekerja keras, ternyata betul, mereka perantau dari sulsel, senyum mereka disela gumpalan asap, tata bahasa dan tingkah, masih menggambarkan nuansa tanah asal mereka. Katanya, disini 80% penduduk dari bugis, sinjai, bone, enrekang, wajo, sidrap, pinrang, bulukumba, sebenarnya bukan hanya bugis karena ada juga makassar, tapi secara umum mereka menyebut bugis,  sisanya perantau dari jawa dan orang tidung sendiri. Terlihat di gambar yang diabadikan dari salah satu mesjid besar di kota sebatik, nama mesjid ditulis dengan huruf lontara..
Saya langsung teringat dengan daerah luwu-sulsel yang beberapa wilayah didiami oleh orang jawa dan bali, mereka hidup dan berkembang di sana, sama atau tidak dengan kasus ini, saya kurang paham. Jika di luwu ada beberapa kampung atau desa yang diberi nama jawa/bali, maka di sini pun demikian, tempat yang lagi ada pesta ini disebut kampung sinjai, desa lapri kec.sebatik. Orang bugis telah menguasi beberapa wilayah disebatik ini, penduduk lokal tergeser kepolosok gunung. Dan katanya orang terkaya di daerah ini adalah orang bone, jika ada bangunan-bangunan besar, tanah yang luas itu dimiliki oleh mereka yang berlabel bugis. Secara singkat mereka menjelaskan tentang penamaan dan pemilikan tanah di ujung borneo ini, awalnya mereka merantau ke malaysia sebagai TKI ilegal, karena ilegal sehingga pekerjaan mereka disana terbatas dan dibayangi ketakutan akan ditangkap, mereka memilih pergi dan singgah di daerah ini yang dekat dengan malaysia, cukup 15 menit menggunakan speedboot. Tanah ini masih kosong, sehingga mereka membuka lahan dan bercocok tanam, begitulah seterusnya hingga sekarang menjadi ramai.
Bagaimana dengan penduduk lokal? Katanya" penduduk lokal tidak pernah pusing dengan kehidupan, malah mereka sendiri yang menjual tanah mereka kepada para pendatang, kehidupan penduduk lokal sangat sederhana, rumah mereka seadanya, yang jelas bisa berteduh, jarang penduduk lokal yang berminat kerja keras mengumpulkan uang, kata mereka" kami  lahir disini, besar disini dan akan mati disini, apa yang akan kami kejar? Jika kehidupan kami hanya berputar disini, yang jelas masih bisa makan untuk melangsungkan hidup, berbeda dengan kalian para pendatang, kalian harus kerja keras mengumpulkan uang, karena kalian perantau yang punya cita-cita untuk kembali ke kampung masing-masing karena disana kehidupan kalian.
Lalu bagaimana dengan kehidupan para pendatang, khususnya orang-orang bugis, apakah akur-akur saja? "Kalau disini kehidupan orang-orang sangat baik, kecuali di daerah timur sana, wilayah tarakan yang juga didominasi oleh bugis, disana pernah terjadi konflik kurang lebih 3 hari antara orang bugis, terkhusus orang pinrang, letta' dengan orang tidung.."kata orang disini, sebenarnya orang tidung mulai kehilangan kesabaran, karena orang bugis disana (tarakan) selalu mengganggu orang tidung (mengganggu tanda kutip)..banyak korban yang berjatuhan, dan paling banyak itu bugis, katanya.
Apa pekerjaan orang-orang bugis disini? "Mereka bertani, berdagang atau jual-jualan, membuat tambak udang, tambak ikan bandeng dan menjadi perampok. Banyak orang bugis di sini yang jadi perampok, mengambil hasil tambak orang, dan bisa dikatakan bajak laut, karena mereka merampok orang-orang di atas kapal yang akan menyeberang pulau dengan menggunakan speedboot, yang dirampok pun sesama mereka orang bugis. Jika mereka ketahuan dan dikejar oleh polisi, cukup melewati perbatasan negara saja, mereka akan aman, apalagi di tengah laut ada perbatasan tiga negara, indonesia-malaysia-filipina.

Catatan dari ujung borneo, berdasarkan hasil jalan-jalan dan perbincangan dari beberapa orang disini.

Sebatik, 24 Jan 14, acc...

Akhir 2013

Seperti tahun sebelumnya, kemeriahan selalu mewarnai malam pergantian tahun, momen sama yang sudah saya saksikan sejak kecil dulu. Ini sudah seperti sebuah tradisi atau sebuah ritual, terkhusus bagi remaja atau muda mudi, meskipun orang tua ada juga yang berpartisipasi, ini seperti hari perayaan kebesaran lainnya, dan semoga saya salah atas pernyataan tersebut.
Tapi jika ini adalah sebuah tradisi, maka ini tradisi yang lintas batas, lintas usia, lintas golongan, suku, ras bahkan agama.
Terlepas dari pro dan kontra berbagai penanggap, tapi realitanya seperti itu. Perayaan ini identik dengan pesta atau hura-hura, mulai dari kota besar hingga ke desa, mulai dari menyewa musik mahal, elektone, atau sekedar mengeluarkan speaker pribadi ke pinggir jalan kemudian bernyanyi bersama, perayaan dalam kategori paling sederhana biasanya sekedar berkumpul bersama dalam canda tawa menikmati kopi, teh atau minuman kemasan seperti teh gelas dan tahu isi. Yang sedikit religius biasanya merayakannya dengan doa bersama, atau yang membingkainya dalam nuansa intelektual biasa merayakan dengan diskusi bersama, setelah itu makan-makan..

Sore ini tanda-tanda perayaan itu semakin jelas, meskipun dari kemarin sebenarnya sudah banyak yang curi start, lebih duluan meledakkan petasan dan kembang api. Tapi sore ini semua semakin gencar, semakin gesit untuk menuju puncak perayaan. Penjual petasan dan kembang api semakin sengit bersaing memikat pembeli. Tidak mau kalah, penjual jagung, penjual ikan dan penjual arang ambil andil untuk mereka yang akan merayakan dengan bakar-bakar jagung atau ikan.. penjual terompet yang harus kerja ekstra membungkus jualan mereka agar tidak basah oleh rintik hujan juga berperan aktif.
Di sudut kota sana, mereka yang berlebih sudah mulai masuk ke ruang-ruang yang sedikit mewah, yang dipenuhi lampu kedap-kedip berwarna warni, bersama pasangan masing-masing atau teman-teman mereka tentunya. Ada juga katanya yang merayakan di kamar hotel, tapi..akh.. entahlah dengan itu, saya tidak paham.

Rintik hujan yang begitu tipis, kecil-kecil terus menetes dari langit, sepertinya ia sudah lelah dari pagi tadi menyerang dengan derasnya, membasahi bumi hingga tanah tak mampu lagi menampung airnya, dan membiarkan menggenang di permukaan. Ini tentunya baik mereka, hujan tidak menghalangi mereka keluar malam ini, rintik kecil bukan hal yang berarti, basah sedikit bukanlah sebuah masalah untuk acara tahunan ini. Bahkan rintik itu menjadi hiasan alami, warna yang terlihat indah menetes diselah cahaya lampu jalan.
Kembang api sudah mulai ramai mewarnai langit, petasan yang bersahutan seperti bersaing satu sama lain, suara bising, suara musik dan suara cempreng yang ikut menyanyi mengisi  hingga detik-detik menghitung mundur pergantian tahun. 10-9-8-7-6-5-4-3-2..dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh, semua diam, berhenti menghitung..dan seketika suara ledakan pecah..mereka berteriak histeris, berlari berhamburan...ahhh...itu badai..meruntuhkan gedung, membelah jalan, mereka berlarian menyelamatkan diri..seperti semut yang disiram air keras, ada yang terinjak ada yang melompat.. hanya hitungan detik, air laut ikut meluap, diikuti longsor..semua disapu rata, gedung, rumah, kendaraan, semua digilas habis..banyak dari mereka terseret, ada yang tertimpa bangunan..atap seng beterbangan, menghantam siapa saja yang dilewati..suara petasan dan nyanyian berganti histeris dan tangis, darah banyak yang tertumpah.. rata..semua rata..mereka terkapar, ada yang kehilangan kepala, badan mereka terpotong menjadi dua, bahkan ada yang hancur remuk..tragis, sedih..
Tiba-tiba semua hening, dan terdengar suara perempuan "sayang, bangun maki, jadi mi kopi ta sama pisang goreng di meja"..ahh, itu suara istriku.. :D :D

acc...
(Sinjai: 31 Desember 2013)