Menarik Dikunjungi

Silahkan Klik untuk selengkapnya

Cerita Sunset

Silahkan klik untuk selengkapnya

Menatap Jauh

Silahkan klik untuk selengkapnya

Kita dan Mereka

Silahkan klik untuk selengkapnya

Berbagi Foto

Silahkan Klik untuk selengkapnya

Nasionalisme Karena Capres

Seketika banyak orang beralih menjadi pengamat politik, berbicara tentang peta politik bangsa, membedah karakter dan perilaku para figur yang bermain dalam arena politik pemenangan calon presiden. Nasionalisme kembali dikobarkan, setelah kemarin pertarungan keluarga, teman dan ego daerah telah padam. Semua berbicara tentang kebaikan bangsa dan kesejahteraan rakyat yang telah dirancang dalam bentuk visi misi dengan susunan kata kata yang tentunya harus meyakinkan. 
Semangat ini, semangat untuk menjadi pemimpin bangsa, kadang susah dibedakan antara semangat atau ego kepentingan. kepentingan pribadi, kelompok, partai dan juga pihak asing, mungkin. Semangat Ini pula yang merambah dan mendominasi perilaku para pendukung. Semangat yang kadang tidak berlandaskan pada pengetahuan yang berimbang, dengan segala informasi sepihak yang telah dimasukkan dalam pahaman mereka, kadang tidak mau tau dan buta melihat kebaikan selain kebaikan dukungannya. Saling serang sesama pendukung, selisih paham dan bahkan pertikaian fisik kadang tak terelakkan, tidak terima jika dukungannya dikatakan jelek, marah dan mengamuk, seakan yang jadi calon ini adalah sepupu mereka. Mungkin ini yang dinamakan fanatik, meski tidak dikenal oleh calon, yang penting dia mendukung. Ikut menyebar segala bentuk kampanye dukungan, berita-berita baik tentang dukungannya, dan berita negatif tentang lawan dukungannya, baik itu berupa pembusukan karakter yang sumber beritanya tidak jelas dan kebenaran berita yang tidak valid. Ini juga sangat dipengaruhi oleh media yang menjadi pelopor berita dan kadang tidak netral dalam memberikan informasi.
Tapi selain itu semua, ini menjadi sebuah momen dimana jiwa nasionalisme muncul, nasionalisme yang sedikit lebih baik dari sekedar nasionalisme karena hobi nonton bola atau bulutangkis, mungkin baik karena masyarakat tidak canggung berbicara tentang masa depan bangsa, keinginan untuk merubah nasib bangsa ke arah yang lebih baik, dengan menyandarkan harapan kepada para pemain yang mereka anggap baik dan layak. 
Calon mana yang layak untuk memimpin, tentunya semua menganggap dirinya layak.
Calon mana yang benar-benar berpihak kepada masyarakat, mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan rakyat? tentunya semua mengaku seperti itu, pengakuan yang masih perlu pengkajian lebih jauh betul tidaknya. tapi semoga saja..

Pemilu dan tukar suara

Besok kita memilih, katanya sebagai wakil kita di parlemen yang nanti akan membawa aspirasi kita, menyuarakan kebutuhan kita, yaa.. semua untuk kita, tapi sekali lagi  "katanya"..

Pemilu adalah pesta demokrasi, cukup layak memang disebut sebuah pesta, karena kemeriahan mewarnai moment ini. Akan banyak kita jumpai hiburan, pertunjukan musik yang mendatangkan artis lokal hingga artis nasional. Pesta yang cukup besar dengan keterlibatan ratusan bahkan ribuan massa. Kali ini masyarakat memang lagi berpesta, bisa dapat lembaran rupih cukup dengan ikut pawai, ugal-ugalan di jalan dan memakai seragam yang dibagikan. Masyarakat lagi dimanjakan dengan sembako, diberi hadiah dan ditukar dengan suara..

Mungkin hari ini para kandidat semakin gencar memaksimalkan strategi pemenangan, mengerahkan semua tim, membagi, memberi dan memastikan semua sesuai perencanaan. Tentu semua targetkan  menang, ingin duduk sebagai anggota dewan. Namun jika kalah? Seperti pada momen sebelumnya, banyak juga yang gila bahkan ada yg tidak sanggup menerima kenyataan, drop dan mati.

Dalam proses pemilu yang saya perhatikan selama ini, pilihan selalu disandarkan pada sebuah sistem barter atau kedekatan, bukan pada kualitas calon. Seseorang akan memilih jika yang dipilih ini adalah keluarga atau teman dekat, atau yang dipilih telah memberi sesuatu kepada pemilih, nominal sekian untuk sekian suara. Saya tidak menganggap itu salah atau itu benar, tapi katanya, kapan lagi kita bisa dapat, toh kalau sudah terpilih untung baik kalau kita diingat.
Mungkin itu juga bagian dari kemuakan masyarakat yang bosan dengan janji manis, bosan dengan segala bentuk orasi membara yang sangat ideal, visi misi yang ditulis sempurna dan menjanjikan dalam bentuk teks.

Tapi cukup ironis dengan segala proses yang seperti ini, masyarakat seperti jualan yang suaranya bisa dihargai dengan materi. Saya tidak menganggap salah orang yang memilih karena dibayar, hitung-hitung daripada tidak dapat sama sekali. Bukan juga pesimis dengan para calon, tapi betulkah mereka membawa aspirasi kita? Jika untuk terpilih mereka harus membayar, saya menganggap itu ambisi pribadi.

Cukup membingungkan, kalau kita memilih belum tentu yang dipilih akan berpihak sepenuhnya kepada masyarakat, terus jika kita golput atau tidak memilih maka kita akan dianggap warga negara yang tidak baik.

Akhh.. sudahlah..
Acc..

Pak Camat

ini cerita kemarin sore, untuk menghilangkan kejenuhan dalam perjalanan dari daerah.

Di dalam sebuah helikopter, ada pak camat, 1 orang asisten pak camat, 2 pramugari dan 1 orang pilot. Mereka berlima sedang panik, karena 10 menit lagi helikopter tersebut akan meledak. Dan parahnya lagi karena parasut yang tersedia cuma empat buah. Mereka berdiskusi untuk menentukan siapa yang paling dahulu menggunakan parasut dan menyelamatkan diri, terjun menggunakan parasut dan mengikhlaskan satu orang untuk meledak bersama heli karena parasut tidak cukup.

Pak camat: sedikit ngotot, "Mungkin saya yang harus lebih dulu melompat, karena masih banyak berkas administrasi yang harus saya tanda tangani".
baiklah.. Semua sepakat, dan pak camat terjun menyelamatkan diri..

Setelah itu dua orang pramugari dipersilahkan untuk terjun menggunakan parasut, karena mereka masih muda, dan biasanya perempuan memang selalu diutamakan.

Tinggal berdua, Pilot dan Asisten pak camat.
Asisten: "jadi siapa lagi yang akan terjun pak?"
Pilot: "menurut bapak kira-kira siapa?
Asisten: "karena pak pilot sudah tua, dan sudah banyak pengalaman, apalagi pak pilot ini sudah bisa jadi pahlawan bangsa jika gugur saat tugas, tentu akan membanggakan karir pak, jadi mungkin saya yang terjun jauh lebih baik"
Pilot: sambil menengadah, menelan air liur, menarik nafas dalam-dalam "saya juga masih ingin hidup"
Asisten: penuh harap, dengan mata berkaca-kaca "Tapi saya masih muda pak, kasian anak dan istri saya"
Pilot: "baiklah.. Silahkan ambil parasut di belakang dan selamat jalan"

asisten tergesah-gesah, segera mengambil parasut di belakang.
Asisten: "Pak, masih ada dua parasut disini"
Pilot kaget dan segera berdiri, bergeser ke belakang mengambil parasut "
Pilot: "Astaga, pak camat salah ambil, yang dia pakai tas ransel saya, bukan parasut..

[intinya: Jangan terburu-buru, tenang dan selalu dikomunikasikan dengan baik jika menghadapi masalah]

Lahir, Hidup dan Mati karena Cinta

“Apa” kadang menjadi kosakata yang sulit untuk dijelaskan jika disandingkan dengan kata Cinta.
Memang lebih menarik dan kebanyakan lebih senang mengaplikasikan Cinta dibanding membahasnya. Tetapi katanya, kekuatan cinta mampu membuat orang gagap menjadi pujangga yang mampu mengurai kata menjadi syair yang indah. Karena cinta, yang pahit kadang menjadi hambar, dan setiap malam seperti purnama yang bertabur bintang. Cinta hidup disetiap hati manusia, bermain dengan rasa dan asa. Pak tua pernah berkata kepada saya melalui sebuah novel, cinta itu bukan kata-kata, cinta itu tindakan, perilaku yang kadang buta dan tidak mengenal siapa dan kenapa. Cinta itu kelembutan, kasih sayang dan pengorbanan. Ada pula yang menganggap cinta itu perasaan suka, senang dan simpatik. Kak ocha bilang, cinta yang datang dari mata kemudian turun ke hati adalah cinta yang masuk lewat jendela, karena mata adalah jendela hati. Yang sakit hati kadang menganggap cinta itu air mata. Cinta itu penderitaan, cinta itu amarah, cinta itu senyuman, cinta itu manis, cinta itu indah, cinta itu kebahagiaan, cinta adalah …

Diantara sekian banyak penjelasan tentang cinta, belum ada yang menganggap cinta sebagai sebuah zat yang memiliki massa, cinta bukan sebuah materi yang memiliki wujud secara langsung, tetapi hanya efek dari cinta yang mampu ditangkap oleh indera. Sehingga untuk sementara ini saya menganggap cinta itu abstrak, mutlak dan tak terkendali. Cinta tidak memiliki wujud materi yang akan habis.

Jika cinta itu abstrak, mutlak dan tidak memiliki wujud materi, berarti cinta tidak akan pernah habis pada diri manusia, cinta selalu ada mengisi relung-relung hati yang dalam. Dan jika cinta itu tidak akan habis, berarti berapa pun banyaknya objek yang dicintai tidak akan mempengaruhi kadar atau kualitas cinta seseorang. Cinta tidak akan berkurang dan tidak akan habis dibagi berapa pun itu. Sehingga jangan pernah takut membagi cinta. :D :D

kita lahir, hidup dan mati karena cinta..

Acc..

Kopi dan PNS

Persis seminggu yang lalu, di tempat yang sama, jam yang hampir sama, dengan tujuan yang sama pula, saya duduk menunggu di sebuah gerai penjual kopi panas. Memesan segelas kemudian duduk di pinggir paling dekat dengan jalan. Jika minggu lalu yang duduk disudut gerai itu adalah empat orang laki-laki dengan seragam korpri, sekarang berbeda, ada lima ibu-ibu dan satu laki-laki yang masih muda, seragamnya sekarang bukan korpri, tapi pakaian dinas dengan tulisan pemerintah kota. Mungkin mereka PNS pemerintahan, mengingat depan gerai ini adalah kantor walikota, atau mungkin mereka honorer, yang jelas mereka bukan pegawai swasta. Jam 10 pagi, mereka asik berbincang, menikmati pagi dengan minuman masing-masing, bercanda satu sama lain dan tertawa riang, memang asik jadi PNS kalau seperti ini, kerja santai dan gaji tetap jalan. Tapi harus diperjelas, mereka belum tentu pegawai yang malas, mungkin karena tidak ada pekerjaan di kantor sehingga duduk santai seperti itu adalah pilihan terbaik. Sebenarnya saya iri sekaligus sedih, karena beberapa tahun lalu saya ikut mendaftar PNS tapi tidak lulus. Alasan saya sederhana, saya ingin bekerja dan  mendapatkan gaji setiap bulannya, dengan gelar pegawai negeri sipil hingga tua dan pensiun tetap akan menerima gaji. Keuntungan pegawai negeri dibandingkan pegawai swasta, pegawai negeri relatif aman dan mekanisme pemecatan lumayan susah, jika tidak disukai oleh atasan paling akan dimutasi. Berbeda dengan pegawai swasta yang kapan saja bisa dipecat, jika atasan sudah tidak senang atau kinerja menurun, maka banyak alasan bisa ia gunakan untuk memecat. Katanya, PNS itu digaji dari hasil pajak, dan yang taat bayar pajak akan digelari orang bijak. Harusnya selain gelar bijak masyarakat juga bisa mendapatkan fasilitas lebih bukan sebaliknya. Masyarakat sudah membayar melalui pajak, tapi jika ingin mengurus administrasi atau KTP misalnya, jangan harap bisa cepat selesai jika tidak ada selip-selip di bawah tangan. Tapi.. Sudahlah.. ini bukan hal tabu lagi dan kadang beberapa orang menganggap itu wajar-wajar saja. Pegawai dengan golongan dibawah kadang kurang puas dengan gajinya, sehingga lewat jalur itulah mereka bisa dapat tambahan pembeli rokok atau pembeli kopi. Saya juga sering menempuh jalur itu agar bisa dapat pelayanan ekspres. Selain itu mereka harus mengembalikan modal, katanya, dan mudah-mudah ini cuma issu, mereka harus membayar sekian rupiah agar bisa lolos jadi pns, meskipun tidak semua membayar seperti itu. Bagi yang punya uang, membayar puluhan juta bahkan ratusan juta lebih baik daripada jadi pengangguran. Seandainya beberpa tahun lalu saya punya uang, mungkin saya juga akan menempuh jalur itu, anggaplah seperti investasi atau menabung, setiap bulannya akan diterima bahkan hingga kita meninggal, menarik bukan, siapa yang tidak ingin jadi pns jika seperti itu. Tetapi ini bukan investasi yang seperti pada umumnya, jalurnya pun bukan jalur umum, seperti lewat di lorong rahasia, tidak semua bisa melewati, meskipun sebenarnya sudah menjadi rahasia umum.
Tapi itu hanya akan menjadi angan-angan  bagi yang tidak punya uang, yaah.. pns itu seperti mimpi manis bagi mereka yang bukan anak orang kaya, bukan anak pejabat, atau bagi mereka yang tidak punya koneksi. Skill, keahlian, kecerdasan biasanya tidak berlaku pada kondisi seperti itu. Berdoa cara yang baik, agar kondisi bisa berubah, agar penerimaan bisa objektif, dan katanya akhir-akhir ini, objektif itu sudah dijalankan. Semoga saja..
Ah, Saya ini seperti orang yang iri luar biasa, mengomel karena tidak bisa..
sudahlah.. kopi saya mulai dingin..

Licin, Terjal dan indah, perjalanan ke Umpungeng

Kesalahan saya waktu itu karena tidak sempat menanyakan siapa namanya. Badannya kurus, lebih kurus dari saya, kulitnya putih dan rambutnya lurus, katanya dia belum menikah. Dia pernah ke tanah papua merantau sekitar 7 tahun lamanya, disana dia bekerja sebagai tukang jahit dan menjual seragam sekolah, kain dia beli dari Australia, katanya lebih murah. Untuk harga baju seragam SD dia jual sekitar 200 ribu/lembar. Harga jual disana memang mahal, tapi berbanding lurus dengan biaya hidup. Yaa kita harus pandai-pandai menabung, jika mengikuti kebiasaan orang sana yang senang berpesta dan mabuk-mabukan, maka tidak akan ada hasil yang bisa kita bawah pulang dari perantauan, katanya setengah ngos-ngoson sambil tetap mengarahkan setir motor di atas jalan yang berbatu.

Saya harus mengakui kehebatan dia mengendarai motor, begitu pun teman-temannya yang lain. lincah dan kuat menahan beban di jalan yang luar biasa menantang. Saya yakin pedrosa atau valentine rossi pun akan mundur jika melihat track ini. Berbatu, sempit, licin, naik turun gunung, dan untung baik kami lalui saat malam sehingga jurang terjal tidak menjadi beban psikologis, yang kelihatan hanyalah siluet gunung dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Gelap berteman udara sejuk, suara burung malam tidak terdengar, digantikan suara knalpot motor yang bergemuruh, sesekali diseligi suara bak mesin motor yang berbenturan dengan batu, sekitar 15 kilometer saya harus memegang besi penyangga sadel agar tidak jatuh, pegangan itupun harus seerat mungkin, duduk agak kedepan dan kepala agak kebelakang, sepertinya itu gaya terjelek saya saat dibonceng, jika saya pindahkan tangan dan memeluk dia, sepertinya kurang bagus, selain akan tambah menyusahkan juga kurang sopan memeluk orang yang belum begitu akrab, meskipun sejenis. Saya sempat tersentak diam dan takut, ketika melihat kuburan di pinggir jalan, tepat di tanjakan terjal dan menikung kira-kira 45 derajat lebih tajam dari 90 derajat, dia pun membunyikan klakson, biasanya itu pertanda izin lewat kepada penghuni tempat sekitar. saya melirik kebelakang, yang kelihatan hanya gelap, melihat ke depan yang kelihatan hanya warna cokelat jalanan basah yang baru saja diguyur hujan dan mengkilap karena terpaan lampu motor. Langsung teringat film-film horor Indonesia, jika tiba-tiba muncul warna putih dengan suaranya yang mendayu-dayu atau ketawa cekikikan. Tapi rasa takut itu hilang saat dia bilang sering melintasi jalan ini sendirian, jam 2 malam dan tidak ada yang mengganggu. Untuk menghilangkan pikiran aneh saya serbu dia dengan pertanyaan.

Merepotkan betul ma ini sama teman-teman ku, jauh-jauh dijemput, saya memulai lagi perbincangan. Akh tidak apa-apa, ini acara bersama, yang penting semua bisa berjalan lancar, jawab dia dengan aksen agak melayu. Kenapa ki belum menikah? Saya mulai masuk hal pribadi. Belum mau, kalau sudah menikah tidak bebas lagi, ya cukup pacaran saja dulu, katanya sambil ketawa kecil. Tapi saya tidak pernah pacaran lama, Cuma beberapa minggu saja putus lagi dan cari lagi yang lain. Wah, berarti banyak pacarta itu di kampung, saya menimpali. Tidak juga, jawabnya singkat. Saya tidak mau kehilangan pertanyaan, sehingga hal aneh pun saya tanyakan hingga masalah penghasilan pribadi. Katanya, penduduk di kampungnya bekerja sebagai petani kopi, cengkeh, cokelat, menyadap getah pohon pinus dan membuat gula merah dari pohon aren. Memang banyak pohon aren di sepanjang jalan, berarti disini banyak tuak? Tanya saya lagi. Tidak banyak juga,  Cuma beberapa saja dan itu langsung dibuat gula. Disini orang-orang atau anak muda tidak suka minum tuak, itu pesan orang tua katanya, tidak boleh mabuk-mabuk dan main judi, tapi kalau pacaran atau merokok tidak apa-apa, itu masih normal, tapi pacaran itu tidak masuk dalam pesan orang tua. mabuk dan judi bisa menjadi sumber kejahatan lain, jika orang sudah mabuk maka bisa saja berkelahi dan sebagainya, atau jika orang main judi dan kalah bisa saja mencuri agar bisa judi lagi. Itu pesan yang cukup menarik.

Kami istrahat sejenak, berhenti di jembatan terakhir, betul-betul capek, tangan saya sakit karena terus memegang besi motor agar tidak jatuh. Tapi semua itu tertutupi oleh perasaan senang bisa menikmati pengalaman yang seru ini. Sekitar 5 kilometer lagi kita sampai, habiskan 2 batang rokok kemudian jalan lagi. Dari jauh terlihat bendera hias, bahagia rasanya akhirnya sampai di tempat tujuan. Sambutan yang luar biasa, dijamu dengan baik dan bersahabat. ini pengalaman yang luar biasa.

Terima kasih yang cukup mendalam buat silo’ Riko dan teman-teman panitia, buat 7 orang yang telah menjemput, dan 7 orang lagi yang telah mengantar, buat fung … yang dengan baik mengizinkan, menjamu dan memberi fasilitas untuk menginap di rumahnya, buat seluruh masyarakat umpungeng kab. Soppeng yang dengan ramah, bersahabat menerima kami untuk ikut menikmati pesta adat, terima kasih untuk semua senyum kebaikan kepada kami, dan mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dari kami. Acc..

Nasionalisme bukan Hobi

Ini bukan sebuah nasionalisme yang tiba-tiba membara karena setting kepentingan kelompok tertentu, membenci Negara lain karena hasutan dan menjadi orang yang seolah sangat cinta tanah air. Atau nasionalisme yang muncul karena senang menonton pertandingan bulu tangkis. Bukan nasionalisme yang dibungkus dengan hobi bola, sehingga merah putih dan garuda melekat di dada. Ini bukan nasionalisme momentum tujuh belasan di bulan agustus.

Tak banyak yang pernah mengunjungi mereka, apalagi pejabat tinggi yang tentu tidak akan tertarik mengendarai motor menyusuri jalan berbatu dan sempit, naik turun gunung dan bermain dengan jurang yang terjal. Beberapa teman, yang mengaku orang soppeng asli saat saya tanya, ternyata belum pernah kesana, pernah dengar namanya, tapi belum pernah kesana. Jangankan itu, sinyal frekuensi telepon pun masih malu-malu mengunjungi mereka, listrik mereka peroleh dari genset dan pembangkit alternatif.

Di umpungeng kabupaten soppeng, Sulawesi selatan, mereka menggelar sebuah acara adat, maccera’ tanah atau menumpahkan darah hewan, tanggal 12-14 maret 2014 kemarin. Kembali merefleksikan masa-masa mengharukan DI/TII, masa kritis saat Indonesia baru saja dideklarasikan sebagai Negara yang merdeka, masa dimana di tempat mereka terjadi pembunuhan dan menumpahkan darah pendahulu mereka. Hal yang menarik dari acara ini, meskipun ini adalah sebuah acara adat dan bukan ritual kebangsaan, tetapi bendera merah putih dipegang erat oleh mereka, dikibarkan di barisan terdepan iring-iringan rombongan. Ini adalah bentuk ke cintaan mereka terhadap bangsa, meskipun acara mereka tidak dihadiri oleh pemerintah atau presiden atau pejabat negara lainnya. Ini adalah refleksi masa-masa DI/TII, pertarungan gerilyawan melawan tentara Indonsia, dan mereka memperjelas keberpihakan mereka, bahwa merah putih harus tetap dikibarkan, kecintaan tanpa ada kepentingan dan bukan sekedar hobi. Acc…